Muktamar Madura

2 jam yang lalu 3

HUT RI ke-81

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura

Muktamar NU itu selalu unik. Di mana pun. Kapan pun.

Selalu ramai. Selalu bikin macet. Tapi anehnya: selalu dirindukan.

Kita semua sudah tahu: Muktamar bukanlah sekadar sidang pemilihan ketua umum PBNU. Bukan pula sekadar adu pasal tata tertib di ruang sidang nan kaku.

Muktamar adalah “hari raya”. Lebarannya orang-orang sarungan dan berkopiah.

Dari ustad sepuh bermata teduh sampai santri muda dari ujung Nusantara kumpul jadi satu. Tidur berdempetan di teras masjid? Biasa. Makan nasi balut beramai-ramai? Justru di situ letak nikmatnya.

Lalu, gimana jika Muktamar NU suatu saat digelar di Madura?

Wah. Membayangkannya saja sudah bikin tersenyum.

Belum pernah Muktamar NU diselenggarakan di Madura. Sejak kali pertama digelar di Surabaya tahun 1926, penyelenggaraan Muktamar NU diadakan di beragam kota selain Madura.

Banyak nan bilang, Madura dan NU itu seumpama dua sisi mata uang. Menyatu. Tidak bisa dipisah. Sejarah sudah mencatat itu dengan tinta emas. Anda pasti ingat kisah ini. Tanpa restu dari Bangkalan, NU mungkin tidak bakal pernah lahir.

Kiriman tongkat dan tasbih dari Syaikhona Kholil kepada KH Hasyim Asy’ari adalah sinyal langit. Bukti sahih. Bisa dibilang, Madura adalah rahim spiritual Nahdlatul Ulama.

Jika muktamar betul-betul pulang ke Madura, Jembatan Suramadu pasti berubah warna. Hijau memanjang.

Ribuan mobil, bus, elf, sampai sepeda motor berjejalan. Semua bergerak menuju Madura. Macet, tentu saja. Tapi wajah mereka pasti tetap gembira.

Dan orang Madura? Oh, mereka bakal menyambutnya dengan totalitas nan tidak ada duanya.

Karakter orang Madura itu khas. Tegas. Terbuka. Keras. Bicaranya lantang seperti ombak pesisir. Tapi, coba lihat mereka saat berada di hadapan kiai. Mereka bakal menunduk. Sungkem. Takzim nan luar biasa.

Tidak ada nan berani petentengan. Harta pun rela diserahkan demi ngalap berkah kiai.

Urusan perut dan logistik? Ini nan paling bikin ngiler.

Panitia lokal tidak perlu pusing mencari katering mewah. Dapur-dapur umum bakal mengepul 24 jam nonstop di setiap kampung. Menu utamanya jelas bukan sembarangan. Bebek ramuan hitam Madura nan legendaris. Sate ayam berlumur ramuan kacang tebal. Soto mata sapi. Lengkap dengan kopi pekat nan kental.

Insya Allah semua disajikan ikhlas. Warga Madura bakal berebut menyumbang. Bagi mereka, melayani ustad adalah kasta tertinggi dari sebuah kehormatan.

Lalu gimana dengan dinamika muktamarnya sendiri?

Sama saja. Namanya juga NU. Perbedaan pendapat itu wajib ada. Debat di ruang sidang pasti panas. Gebrak meja? Ya kadang-kadang. Tarik-menarik support calon ketua umum pasti seru.

Tapi di tanah Madura, panasnya perdebatan itu tidak bakal sampai membakar hati. Panasnya sidang bakal diredam oleh sejuknya angin Selat Madura. Dan nan paling penting: diredam oleh karisma para ustadz sepuh nan hadir.

Ujung-ujungnya, seperti biasa. Kalau meminjam style Gus Dur: gitu aja kok repot.

Muktamar di Madura bukan sekadar urusan letak acara. Sama sekali bukan. Itu adalah perjalanan spiritual. Perjalanan pulang ke kampung laman sejarah. Kembali ke titik nol sebuah perjuangan besar.

Anda setuju?

Kalau tidak setuju, ya tidak apa-apa. Toh, ini sekadar opini. Bukan keputusan Bahtsul Masail. (*)

Selengkapnya