Mbah Hosen

1 jam yang lalu 1

Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura.

Belum kering air mata kita kehilangan Mimit, suporter ekstrem Madura United, Jumat tanggal 18 lalu, Madura kembali berduka.

Malam itu. Di Gelora Madura Ratu Pamelingan Pamekasan ketika tensi panas Madura United nan berupaya mengejar ketertinggalan gol dari PSIM Yogyakarta, suasana tetiba terasa beku.

Di salah satu perspektif tribune, seorang suporter laki-laki sepuh tumbang. Wajahnya memucat. Napasnya berat.

Cepat-cepat dilarikan ke rumah sakit. Semua berdoa. Berharap pertolongan Allah. Namun, takdir punya garisnya sendiri.

Pria sepuh tersebut mengembuskan napas terakhir. Di rumah sakit. Jauh dari peluit panjang wasit tanda pertandingan usai.

Namanya Mbah Hosen. 88 Tahun.

Bagi pendukung Madura United, beliau adalah ikon. Suporter tertua. Dan, tanpa keraguan sedikit pun. Suporter nan paling loyal. Mbah Hosen berdiri mendukung saat Madura United kali pertama bertanding.

Tubuhnya mungkin sudah renta. Kerutan di wajahnya adalah saksi berapa banyak musim nan sudah dia lewati di atas tribune. Tapi, mata dan tariannya bakal selalu menyala terang jika sudah berbincang soal Laskar Sape Kerrab.

Saya berani berkata, jika di stadion ada 1.000 orang mendukung Madura United, sudah pasti Mbah Hosen ada di antara mereka.

Jika nan datang berkurang tinggal 100 orang, Mbah Hosen bakal tetap tegak berdiri di barisan itu.

Bahkan saat Madura United terpuruk dan hanya ada 10 orang tersisa di tribune, Mbah Hosen tidak bakal ke mana-mana.

Bahkan jika di seluruh bumi ini hanya tersisa 1 orang saja nan tetap mendukung Madura United, orang itu pastilah Mbah Hosen.

Bulu kuduk saya berdiri membayangkan level kesetiaan seperti itu. Luar biasa loyalitas dan kesetiaan beliau.

Di era sekarang, loyalitas adalah peralatan superlangka. Begitu mudah orang beranjak hati. Tim kalah sedikit, hujatan mengalir. Pemain main jelek, makian membanjiri media sosial.

Mbah Hosen hidup di dimensi nan sama sekali berbeda. Cinta beliau pada Madura United melampaui papan skor. Menang alias kalah, cinta itu tidak pernah luntur.

Bagi Mbah Hosen, sepak bola bukan sekadar soal hitungan menang, kalah, alias mengangkat piala. Sepak bola adalah soal nilai diri. Kebanggaan bakal identitas. Madura!

Mbah Hosen gugur saat sedang menjalankan ‘ibadah’ cintanya. Di tengah gemuruh stadion. Di tengah sorak-sorai memihak tim tanah kelahirannya.

Banyak orang meninggal di ranjang rumah sakit lantaran sakit tua. Mbah Hosen memilih pergi dengan langkah nan puitis. Mbah Hosen ambruk di medan juang para suporter.

Mungkin begitulah langkah Mbah Hosen mau berpamitan. Di rumah keduanya. Di tempat nan selama ini membikin jiwanya selalu menolak tua.

Suporter Madura United kehilangan panutan terbesarnya. Kita semua kehilangan.

Mbah Hosen baru saja memberikan kuliah umum tanpa perlu berdiri di mimbar kampus. Kuliah tentang loyalitas tanpa batas. Tidak perlu banyak bicara. Cukup buktikan dengan kehadiran. Setia, sampai tarikan napas terakhir.

Selamat jalan, Mbah Hosen. Tribune itu sekarang bakal terasa lebih sunyi. Tapi semangatmu mendukung Madura United bakal terus bergemuruh di sana. Selamanya. Selamat Jalan Mbah Hosen. (*)

Selengkapnya