Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo, Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura, Redaktur Kabar Madura
Pamekasan ini sungguh unik, taretan. Setiap kali nama kabupaten ini disebut, gambaran kita seringkali melayang pada gagahnya tradisi karapan sapi, semarak degub kota pendidikan, alias wangi unik tembakau Madura nan melegenda.
Tapi belakangan, ada satu berita nan sukses bikin dahi kita berkerut. Bukan soal sapi nan larinya mendadak pelan, tapi soal minat baca warganya nan rupanya letoy.
Rilis teranyar Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) Pamekasan nyungsep di urutan empat terendah se-Jawa Timur untuk tahun 2025.
Mirisnya, jika diadu dengan sesama kabupaten di Pulau Garam, Pamekasan sukses meraih gelar ahli kunci namalain paling buncit.
Tentu saja, seperti lazimnya tradisi birokrasi kita, jika ada rapor merah, maka nan pertama dikambinghitamkan adalah perangkat ukurnya. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) lekas-lekas pasang badan.
Kata mereka, rapor merah itu bukan berfaedah orang Pamekasan tidak suka membaca buku. Masalahnya ada di pusat nan tiba-tiba mengubah metode penilaian menjelang akhir tahun dan bikin sistem sampelnya menjadi online.
Arapah mak bisa begitu? Alasan teknis semacam ini memang paling lembek dipakai buat ngeles. Terdengar seperti siswa nan telat masuk sekolah lampau menyalahkan ayam jago tetangga nan lupa berkokok.
Tak monyet bisa menyelesaikan masalah jika kita hanya sibuk menyalahkan sistem dari pusat, kan?
Pengakuan nan lebih jujur meluncur dari sang Kepala Disperpusip mengakui jika program penumbuhan minat baca di Pamekasan memang belum maksimal. Biang keroknya? Tentu saja sang tersangka kekal era now: gawai namalain gadget.
Generasi sekarang, katanya, lebih mudah dan nyaman mengakses info lewat layar ponsel daripada membolak-balik kitab manual.
Satu sisi, ini kebenaran nan tak terbantahkan. Akses internet kita memang makin kencang, tapi ya itu tadi, nan diakses kebanyakan bukan jurnal ilmiah, melainkan tren joget viral, rumor artis, alias status galau di media sosial. Bahkan situs porno dan gambling online.
Orang kita bukannya tidak suka membaca, tapi lebih suka membaca chat WA dari gebetan alias kolom komentar medsos nan isinya caci maki. Literasi kita bergeser drastis dari “membaca buku” jadi sekadar “membaca situasi”.
Sebenarnya, menyalahkan gadget itu seumpama menyalahkan sendok lantaran kita kegemukan. Alatnya tidak salah, langkah pakainya saja nan keblinger.
Kalau memang kitab cetak sudah mulai ditinggalkan lantaran dianggap antik dan bikin ngantuk, ya perpustakaannya nan kudu banting setir. Kenapa tidak memperbanyak koleksi digital nan seksi dan mudah diakses?
Atau bikin kampanye literasi nan bahasanya nyambung sama anak muda. Jangan hanya meletakkan kitab tebal berdebu di rak, lampau berambisi ada keajaiban penduduk beramai-ramai datang meminjamnya.
Pada akhirnya, nomor statistik BPS itu mestinya tidak perlu ditanggapi sebagai kejelekan nan kudu dicari-cari alasannya. Anggap saja itu tamparan mesra agar kita segera melek. Pamekasan punya modal besar, masyarakatnya cerdas, dan punya julukan mentereng sebagai Kota Pendidikan. Jangan sampai kelak, gelar itu hanya jadi kenangan manis nan menguap begitu saja.
Ayo, taretan, mari kita mulai merawat kewarasan dengan membaca kitab lagi, alias minimal membaca tulisan nan agak bergizi di layar ponsel Anda seperti Rubruk I Like Monday di Kabar Madura.
Jangan sampai masa depan kita ikut-ikutan letoy hanya gara-gara malas mengeja huruf. Salam Literasi! (*)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·