Salah satu pasang sapi karapan dipacu di lapangan Karapan Sapi di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu. (KLIKMADURA)
PAMEKASAN || KLIKMADURA – Paguyuban Karapan Sapi (Pakar Sakera) Kabupaten Pamekasan mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan segera membenahi akomodasi lapangan karapan sapi di Desa Murtajih, Kecamatan Pademawu.
Perbaikan tersebut dinilai krusial agar lapangan kebanggaan masyarakat Pamekasan itu dapat memenuhi persyaratan untuk menjadi tuan rumah arena karapan sapi tingkat Piala Presiden.
Ketua Pakar Sakera Kabupaten Pamekasan, Moch. Fakhrurrozi, menyampaikan bahwa pihaknya terus berambisi support pemerintah wilayah untuk merealisasikan perbaikan lapangan tersebut.
Menurutnya, salah satu hambatan Pamekasan belum menjadi tuan rumah arena karapan sapi tingkat Piala Presiden adalah akomodasi lapangan nan belum memadai.
“Jadi, lantaran selama ini tidak bisa ditempati piala presiden alasannya lantaran lapangan ini tidak di pagar alias tidak di tembok, untuk lantaran itu kami memohon kepada ketua agar bisa segera direalisasikan,” ungkapnya.
Fakhrurrozi mengatakan, usulan perbaikan tersebut selalu disampaikan setiap tahun saat pagelaran karapan sapi digelar. Ia berambisi Pemkab Pamekasan dapat segera menindaklanjuti usulan tersebut agar akomodasi lapangan semakin layak untuk menyelenggarakan arena karapan sapi berskala lebih besar.
Menanggapi usulan itu, Bupati Pamekasan Kholilurrahman menuturkan bahwa perbaikan lapangan karapan sapi bakal menjadi catatan pemerintah daerah. Pembenahan, kata dia, dapat dilakukan secara berjenjang dengan mempertimbangkan keahlian anggaran daerah.
“Insya Allah itu bakal menjadi catatan kita. Tentu sekalipun tidak sekaligus kita memperbaiki lapangan langsung 100 persen, mungkin bisa dicicil,” ujarnya.
Orang nomor satu di Kabupaten Pamekasan itu menegaskan, karapan sapi tidak boleh dipandang semata-mata sebagai perlombaan untuk memperebutkan kemenangan.
Tradisi unik Madura tersebut merupakan warisan leluhur nan mengandung nilai sejarah, keterampilan, gotong royong, dan sportivitas, sekaligus mempunyai potensi untuk menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Tidak boleh memandang kerapan sapi hanya dari sisi lomba dan kemenangan belaka. Akan tetapi, di dalamnya ada tradisi, ada sejarah, keterampilan, gotong royong, sportivitas, ekonomi masyarakat. Makanya ini kudu kita rawat berbareng untuk generasi penerus kita,” pungkasnya. (enk/nda)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·