Madura Today – KH. A. Badwi Sanusi merupakan pengasuh kedua Pondok Pesantren Sumber Mas, Rombiya Barat, Ganding, Sumenep, Madura, nan telah berdiri tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ia dikenal sebagai sosok ustad nan karismatik, lurus dalam sikap, teguh memegang prinsip, dan sederhana dalam menjalani kehidupan. Sebagian besar waktunya dicurahkan untuk mengasuh dan memimpin pesantren serta mengisi majelis-majelis taklim.
Kehidupannya menunjukkan sosok seorang ustad nan berupaya menjadikan nilai-nilai kepercayaan sebagai pedoman dalam setiap langkahnya.
Keteguhan prinsip menjadi salah satu karakter nan paling menonjol dalam perjalanan hidup KH. A. Badwi Sanusi. Ia tidak mudah goyah oleh bujukan duniawi, termasuk ketika berada dalam lingkungan politik nan sering kali menuntut sikap pragmatis.
Padahal, sebagai seorang tokoh kepercayaan sekaligus tokoh politik, dia mempunyai akses nan cukup luas untuk memperoleh beragam kemudahan dan fasilitas. Namun, kesempatan tersebut tidak membuatnya mengubah style hidup. Ia justru memilih hidup sederhana sebagai jalan nan diyakininya.
Kesederhanaan itu menjadi semakin menarik jika dilihat dari posisi sosial dan jaringan nan dimilikinya. Menjelang Pemilihan Presiden 2019, KH. A. Badwi Sanusi pernah dikunjungi oleh dua tokoh krusial negara, ialah Jenderal Polisi H. Muhammad Tito Karnavian dan Marsekal TNI Dr. (Hc) Hadi Tjahjanto, S.I.P.
Kunjungan dua pejabat tinggi negara tersebut menunjukkan bahwa KH. A. Badwi Sanusi mempunyai posisi dan pengaruh nan diperhitungkan, khususnya dalam lingkungan sosial-keagamaan dan politik.
Namun, kedekatan dengan tokoh-tokoh krusial tersebut tidak kemudian dia manfaatkan untuk mengejar kemewahan alias untung pribadi.
Dalam bumi politik, KH. A. Badwi Sanusi aktif sebagai salah seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Kiprahnya di bumi politik melangkah beriringan dengan pengabdiannya di bumi pesantren.
Kendati mempunyai akses kepada beragam kalangan politik dan pejabat tinggi negara, dia tidak menjadikan posisi politik tersebut sebagai sarana untuk kepentingan pribadi.
Demikian pula, kiprahnya dalam politik tidak dia gunakan untuk mengejar untung material bagi lembaga pendidikan nan dipimpinnya.
Sikap tersebut memperlihatkan upayanya untuk tetap menjaga independensi pesantren dan memisahkan kepentingan keagamaan dari kepentingan pragmatis politik.
Sikap hidup KH. A. Badwi Sanusi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang pendidikan pesantren nan membentuk dirinya. Ia merupakan alumni Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan, salah satu pesantren besar nan mempunyai tradisi keilmuan Islam nan kuat di Madura.
Setelah itu, dia juga menimba pengetahuan di Pondok Pesantren Tempuran, Tempurejo, Jember. Pengalaman belajar di dua lingkungan pesantren tersebut menjadi bagian krusial dalam pembentukan karakter keilmuan dan keagamaannya.
Tradisi kepesantrenan nan dijalaninya kemudian dia bawa dalam kehidupan pengabdian sebagai ustad dan pemimpin pesantren.
Salah satu karakter krusial KH. A. Badwi Sanusi adalah keterbukaannya terhadap perbedaan. Baginya, perbedaan dalam corak pemikiran dan organisasi keislaman bukan argumen untuk memutus persaudaraan.
Selama berada dalam bingkai Islam dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah, perbedaan dapat diterima sebagai bagian dari dinamika kehidupan umat.
Sikap tersebut tercermin dalam langkah dia membangun hubungan dengan para santri dan masyarakat nan mempunyai latar belakang pemikiran keislaman nan beragam.
Ia tidak menjadikan perbedaan sebagai tembok pemisah, melainkan sebagai ruang untuk tetap saling menghormati dan bekerja sama dalam kebaikan.
Keterbukaan tersebut juga tercermin dalam perjalanan para alumninya. Salah seorang alumninya adalah Sunanto, nan lebih dikenal sebagai Cak Nanto, nan kemudian tampil sebagai tokoh nasional dan pernah dipercaya memimpin Pemuda Muhammadiyah.
Kenyataan bahwa seorang alumni Pondok Pesantren Sumber Mas kemudian berkecimpung dalam lingkungan Muhammadiyah menjadi salah satu gambaran bahwa pendidikan nan dibangun KH. A. Badwi Sanusi tidak terkungkung oleh sekat-sekat organisasi.
Ia memberikan ruang kepada para santrinya untuk berkembang dan menentukan jalan pengabdiannya masing-masing, selama tetap berpegang pada nilai-nilai Islam.
Dalam konteks kehidupan keislaman di Indonesia, sikap seperti ini merupakan warisan nan sangat berharga. Islam menjadi titik temu, sedangkan perbedaan menjadi bagian dari realita nan kudu disikapi dengan kedewasaan.
Karena itu, keterbukaan KH. A. Badwi Sanusi bukanlah sikap tanpa prinsip, melainkan keterbukaan nan berakar pada kepercayaan bahwa persaudaraan umat kudu dijaga di atas perbedaan pilihan dan latar belakang. Jejak ini memperlihatkan keluasan pandangan seorang ustad dalam mendidik generasi dan membangun hubungan sosial-keagamaan.
Dalam kepemimpinannya di Pondok Pesantren Sumber Mas, KH. A. Badwi Sanusi berupaya mempertahankan prinsip-prinsip keagamaan sekaligus mengembangkan lembaga nan dipimpinnya.
Masa kepemimpinannya terbilang membawa banyak perkembangan bagi pesantren. Berbagai kemajuan nan berjalan selama masa kepemimpinannya menunjukkan bahwa keteguhan dalam memegang prinsip keagamaan tidak berfaedah menutup diri dari perkembangan.
Sebaliknya, prinsip tersebut menjadi injakan dalam mengarahkan perkembangan pesantren agar tetap berada dalam koridor nilai-nilai keislaman.
KH. A. Badwi Sanusi juga mempunyai latar belakang genealogis nan menghubungkannya dengan mata rantai panjang sejarah keulamaan dan pemerintahan Sumenep.
Ia disebut sebagai keturunan ke-10 Syekh Akbar Guluk Manjung, Bluto, seorang tokoh nan dikenal sebagai salah satu penyebar kepercayaan Islam di Madura.
Dari jalur nan lain, dia juga tetap mempunyai hubungan keturunan dengan Tumenggung Tirtonegoro alias Bindereh Saot, penguasa Sumenep.
Garis keturunan tersebut kemudian bersambung melalui Raden Pasopati alias Kiai Nasiruddin, Raden Ayu Ummi, Raden Ayu Hanawati, Nyai Fathimah, Kiai Sanusi, hingga Kiai Badwi.
Dengan demikian, KH. A. Badwi Sanusi berdiri dalam sebuah mata rantai sejarah nan mempertemukan tradisi keulamaan, pendidikan pesantren, dan sejarah sosial-politik Sumenep.
Namun, kebesaran genealogis dan luasnya jaringan sosial-politik nan dimilikinya tidak menjadikannya seorang nan mengejar kemewahan. Justru kesederhanaan dan keteguhan prinsip menjadi karakter nan menonjol dalam kehidupannya.
Di tengah bumi politik nan sering mempertemukan kepentingan agama, kekuasaan, dan kepentingan material, KH. A. Badwi Sanusi memilih untuk tetap berpegang pada prinsip nan diyakininya.
Ia menjalani peran sebagai kiai, pengasuh pesantren, pemimpin majelis taklim, sekaligus tokoh politik tanpa menjadikan salah satu posisi tersebut sebagai jalan untuk memperkaya diri.
Bagi dirinya, pengaruh dan kedudukan lebih merupakan amanah daripada kesempatan untuk menikmati kemewahan. Sikap inilah nan menjadikan perjalanan hidupnya menarik untuk ditempatkan dalam sejarah perkembangan pesantren dan kehidupan sosial-keagamaan masyarakat Madura.
Kini, pada 20 Agustus 2026, KH. A. Badwi Sanusi telah berpulang ke rahmatullah, meninggalkan keluarga, para santri, dan seluruh orang nan pernah mengenal serta merasakan ketulusan pengabdiannya.
Kepergiannya menyisakan duka nan mendalam, tetapi juga meninggalkan jejak panjang tentang keistikamahan, kesederhanaan, keteguhan prinsip, keterbukaan, dan pengabdian nan bakal menjadi inspirasi bagi para penerus dan santri-santrinya.
Penulis : Dr. A. Mufti Khazin, MHI.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·