Keturunan

1 jam yang lalu 1

HUT RI ke-81

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Filsafat dan Epistemologi Islam Universitas Nurul Jadid.

Sepulang dari kunjungan ke Bali pada tahun 2020, kami mampir ke rumah Ahmad Faridl Ma’ruf, kawan sekelas di Akidah dan  Filsafat IAIN (Kini UIN) Sunan Kalijaga. Di ruang tamu, saya memandang surat undangan pertemuan Trah Muhammad Rowi di meja sudut. Ternyata, kawan sekost dulu di awal kuliah di Jogjakarta ini adalah generasi ke-7. Sebagai turunan ke-8, saya memanggilnya om sejak itu hingga kini.

Bayangkan, setidaknya pada tahun 1992, kami tinggal sekamar di Ambarrukmo tanpa tahu akar dan silsilah keluarga. Baru 38 tahun kemudian kami sadar sebagai generasi nan mempunyai kakek moyang nan sama. Jauh sebelumnya, pada hari lebaran, kami tidak hanya berkunjung ke kuburan orang tua dan kakek, tetapi  juga Bhuju’ Rowi. Berkat ikhtiar Dr. Sahli Hamid nan mengumpulkan jejak ini, kami tahu keturunan dari seorang nan samar-samar belum sepenuhnya saya baca sejarahnya.

Lalu, kenapa kita perlu mengenal akar? Bibit, dalam tradisi Jawa, menjadi penting, lantaran di sini seseorang dikenal sebagai perseorangan nan lahir di ruang dan waktu tertentu. Secara otomatis dia membawa gambaran nan melekat dengan legenda nan seringkali ditempelkan pada leluhur. Sejauh ini, saya belum membaca arsip mengenai selain cerita nan disampaikan secara lisan.

Hingga kini, sebagaimana di Jawa, Madura juga mempunyai tradisi kental dalam menjaga hubungan kekeluargaan. Meskipun kini, saya melihatnya semakin luntur. Tak seperti dulu, sekarang relasi family semakin bertumpu pada family inti (nucleus family). Dulu, ayah membujuk saya mengunjungi sepupunya di Gunung Tinggi nan kudu dicapai dengan naik pikulan dan melangkah kaki cukup jauh dari jalan ke lokasi.

Apakah keturunan itu tetap perlu digulirkan? Sebagai arena silaturahmi untuk mewujudkan cita-cita lebih luas upaya adalah jitu. Tetapi, kita perlu membuka diri dengan buahpikiran Jean Paul Sartre tentang eksistensi mendahului esensi. Dalam L’existentialisme est un humanisme (1946), filsuf Prancis ini menyatakan bahwa apa nan kami maksudkan dengan mengatakan bahwa eksistensi mendahului esensi? Artinya, manusia pertama-tama ada, muncul di dunia, baru setelah itu dia mendefinisikan dirinya sendiri.

Dari pernyataan di atas, seseorang lahir dulu sebagai “individu kosong” nan belum punya label. Semua cap tentang dirinya, seperti alim, pintar, terhormat, hina, baik, bebal, dan jahat bakal ditulis belakangan oleh tindakan. Berbeda dengan pandangan lama bahwa prinsip itu ada terlebih dulu baru eksistensi, misalnya pisau diciptakan dulu untuk memotong, baru kemudian dia eksis.

Pernyataan Sartre di atas hendak menempelak kepercayaan banyak orang nan terlalu kagum pada garis keturunan. Pesannya jelas bahwa seseorang tidak boleh berakhir dengan keterlemparan (Geowrfenheit), nan mengandaikan seseorang telah ditentukan oleh situasi dirinya, tetapi selanjutnya merancang (Entwerfend) kemungkinan-kemungkinan masa depannya, sebagaimana diungkap Heidegger dalam Being and Time. Untuk itu, Sartre menyeru agar dia perlu diberi pilihan untuk bertindak bebas.

Ketika seseorang menyerah pada label nan selama diandaikan oleh liyan, misalnya saya dilihat sebagai penganut  Asy’ariyyah dalam teologi dan al-Baghdadi dalam tasawuf lantaran berasal dari garis Trah Rowi. Jelas, ini adalah bad faith lantaran saya lebih menyukai pemikiran etis Mu’tazilah dan jalan sufistik Ibn ‘Arabi secara eksistensial. Artinya, saya meninggalkan warisan nan berpijak pada teologi dan mistisisme terdahulu. Bagaimanapun, seraya menghormati leluhur sebagai kebenaran kelahiran, saya tidak kudu menjadikan kedua jalan itu sebagai penjara batin.

Darah keturunan itu jelas adalah realita nan tidak bisa disangkal. Namun keberterimaan itu bukanlah simpul mati. Ia tidak lebih dari sekadar titik awal sebelum seseorang melangkah lebih jauh untuk menemukan dirinya nan autentik. Tetapi, tidak banyak orang nan berani keluar dari jebakan ini, lantaran orang awam juga adalah ruji-ruji nan sering mengerangkeng seseorang untuk keluar dari masa lalunya.

Tradisi memang memberikan kita akar untuk mengenal diri sendiri. Namun, jika jika akar itu menjadi belenggu untuk melangkah, kita hanya menjadi pindaian pandangan bumi leluhur. Maka, sampai kapan kita bakal keluar dari kerumunan?

Selengkapnya