Kesadaran

1 jam yang lalu 3

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S2 Hermeneutika Sosial Keagamaan Universitas Nurul Jadid.

Kami memesan nasi jagung kepada tetangga. Dengan merogoh Rp7.000,00, kami dapat bersarapan nasi berlauk ikan asin, tahu, tempe, sambal, dan sayur terung. Betapa pagi nan menggugah selera! Sementara, anak wanita membawanya ke sekolah dengan memindahkannya ke kotak makanan.

Dengan memesan makanan ini pada malam hari, kami tidak perlu memasak semua itu sebelum subuh. Jika memasak sendiri, kami tidak bakal menghabiskan lauk lantaran tidak mungkin menggoreng dua pangkas tempe alias tahu saja. Betapa hemat! Selain itu, penduduk bisa membantu toko mini jiran nan juga berdagang kebutuhan lain, seperti telur, gula, dan jenis jajanan anak, tempat Zumi, Akmal dan Kiki sering membelinya di sore hari.

Saya pun mengenal anak-anak penjual tersebut nan giat berjemaah ke masjid. Pemenuhan kebutuhan berbasis organisasi dapat mengurangi jejak karbon. Iman itu adalah peduli pada tetangga. Kepercayaan pada Tuhan nan ditunjukkan oleh umat dengan memerhatikan keadaan jiran perlu mendapatkan perhatian nan utuh dari kita semua.

Peristiwa di atas mengandaikan koherensi dalam pemikiran Alfred North Whitehead. Rangkaian kejadian itu tidak berdiri sendiri, lantaran bakal menghilangkan makna. Pilihan selera diselaraskan dengan kehidupan bertetangga dan andaian bahwa apa nan dikonsumsi dihasilkan oleh petani lokal, sehingga jarak produksi menjadi nasi pendek, meskipun jaringan proses dan relasi nan panjang.

Entitas itu saling terhubung melalui prehension (merasakan/menangkap). Saya merasakan jerih payah tetangga, menikmati makanan, dan mendapatkan nilai nan terjangkau. Demikian pula, tetangga nan berdagang itu menangkap kebutuhan kami dengan repot memasak dan mendapatkan rezeki. Tentu, dengan memesan di waktu malam, jiran lain nan berada di grup WA melakukan perihal serupa sehingga dia memasak sesuai dengan pesanan keesokan harinya.

Lebih jauh, Whitehead menegaskan adanya produktivitas dalam setiap entitas aktual. Di sini, kami sama-sama melakukan penemuan kecil, ialah tidak memasak untuk menghemat gas, listrik, dan mencegah makanan terbuang. Tambahan, kami mengurangi perjalanan kendaraan nan baik bagi lingkungan lantaran mengurangi karbon monoksida. Bayangkan jika kami memesan makanan dari tempat nan jauh, sungguh banyak bensin nan kudu dibakar agar menu itu tersedia di atas meja.

Kepedulian penduduk ini jelas merupakan terjemahan dari pengertian ketaatan nan lebih luas. Menurut penulis Process and Reality: An Essay on Cosmology (1978), Tuhan membujuk (persuade) bumi menuju kebaikan. Atas dasar kepercayaan inilah mereka tergerak untuk mengenal tidak hanya penjual tetapi juga family sebagai proses pengalaman spiritual nan mewujud dalam tindakan sosial-ekonomi di pagi hari.

Ungkapan Tuhan membujuk mengandaikan hubungan ilahi nan penuh kasih, kesabaran, dan rasa hormat. Kekuasaan ilahi bukanlah otoritas nan berdiri di atas paksaan (coercion), tetapi kekuasaan pemikat (lure) nan menuntun bumi menuju keelokan dan hormat, seraya memberikan kebebasan pada setiap makhluk untuk merespons. Bukankah atas dasar kesadaran, bukan ancaman, manusia bertindak sepenuh jiwa dan raga?

Kisah di atas adalah bentuk sederhana dari ekonomi sirkular tempat makanan dimasak lokal, dibeli secara lokal dan tidak ada nan terbuang, bandingkan dengan Makanan Bergizi Gratis (MBG). Solidartias organik seperti ini tentu merupakan langkah mini untuk menjaga masa depan bumi dan kenyamanan warga. Kita membayangkan bahwa perihal serupa juga bisa dilakukan di banyak tempat untuk mendukung kelestarian.

Akhirnya, relasi manusia dan alam merupakan satu kesatuan, nan saling mempengaruhi dan bertanggungjawab atas keberlanjutan ekosistem dan harmoni kosmis. Dari sini, setiap insan mempunyai tanggungjawab etis untuk turut menjaga keseimbangan tersebut agar bumi sebagai rumah berbareng layak untuk dihuni lantaran setiap warganya dapat memenuhi kebutuhan dasarnya dan tanah, baik berupa rimba alias lahan, tidak dirusak untuk untung segelintir dan dibebani oleh sampah nonorganik. Dari rumah, kita bisa melakukan perubahan.

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0