Kemasyhuran

1 jam yang lalu 1

HUT RI ke-81

Oleh: Ahmad Sahidah, Dosen Program S3 Filsafat dan Epistemologi Islam Universitas Nurul Jadid.

Saya pernah mengikuti aktivitas pementasan drama nan bercerita sahabat gua (Ashabul kahfi) ketika bergiat di Markaz al-Lughah al-‘Arabiyyah Pondok Pesantren Annuqayah. K. H. Muhsin Amir sebagai motor penggerak pengembangan bahasa Arab memandang krusial penguasan bahasa asing melalui pelbagai kegiatan. Kala berada di atas panggung, kami tentu disorot kamera dan mata penonton.

Dulu, saya pernah didapuk sebagai raja dalam aktivitas mahasiswa pondok SME Bank Universitas Utara Malaysia. Dengan memakai baju kebesaran, saya diiringi oleh punggawa menuju bangku tamu dan diminta untuk memberikan sambutan. Sama dengan kejadian di atas, sungguh mengujakan jika kita berada di atas panggung dan menjadi perhatian khalayak. Keduanya sama-sama berdiri di atas rekaan, bukan sungguhan.

Tetapi, siapa nan mempunyai kuasa sebenarnya ketika kita berada di atas panggung? Setidaknya, sebagai tokoh di atas panggung seseorang kudu tunduk pada isi naskah dan pengarahan sutradara, sementara pemeran raja dalam sebuah aktivitas diatur oleh pembawa acara, kapan naik dan bicara di atas panggung. Ternyata, ada tangan orang lain nan mengarahkan langkah tokoh nan menunjukkan bahwa hidup melangkah tidak sepenuhnya atas kemauan sendiri.

Perasaan di atas tentu bertolak dari sebuah dugaan bahwa diri seseorang itu unik, berbeda dengan orang tidak menjalankan peran itu. Padahal, di atas panggung setiap orang sama. Ia tidak lebih dari ilusi nan sebenarnya adalah produk standar alias disebut pseudo-individualitas oleh Adorno dan Horkheimer dalam Dialectic Enlightenment. Polanya sama, ialah andaikan seseorang mau diberikan penghormatan maka dia kudu berada di atas pentas dengan babak-babak prosesi aktivitas nan baku, seperti corak musik terkenal nan monoton, ialah verse, chorus, dan bridge. Tidak jarang, drama panggung adalah dramatisasi dari keadaan nan telah dipoles agar lezat didengar dan sedap dilihat. Lebih jauh, pengakuan semu ini dilihat oleh Adorno sebagai hadiah atas penundukan diri dan merupakan kesenangan tiruan nan dihasilkan oleh industri budaya.

Kala seseorang berdiri di atas panggung alias melihatnya dirinya di layar kaca alias media sosial, dia merasakan euforia dan validasi. Kamera seolah-olah berujar, “Kamu hebat, Anda dilihat.” Padahal, ini adalah kesenangan semu, lantaran kebahagiaan itu tidak datang dari karya alias jati dirinya, melainkan sinar nan dipancarkan oleh perangkat produksi (kamera, lampu panggung, dan algoritma). Justru, dia bukan subjek, melainkan objek nan diizinkan untuk bercahaya oleh mesin industri, seperti Facebook, Instagram, dan X.

Memang, pengakuan itu merupakan kebutuhan menengah atas dalam teorinya Abraham Maslow. Tetapi, dorongan ini bakal terjebak pada ketagihan orang terhadap kontrol orang lain nan tidak disadari. Semakin banyak nomor like, semakin baik. Alih-alih sebagai perangkat untuk menyampaikan pesan, dia adalah mesin untuk menumpuk perhatian dari liyan tentang kehausan dirinya pada ketenaran nan sebenarnya berada pada penghargaan nan lebih rendah, seperti status, prestise, dan reputasi perhatian.

Meskipun kemasyhuran adalah kebutuhan nan sah, Maslow sendiri memperingatkan bahwa memburu kemasyhuran sebagai fondasi nilai diri itu berbahaya. Penulis Toward a Psychology of Being ini menekankan bahwa nilai diri nan sehat semestinya berasal dari kompetensi dan penerimaan internal, bukan sekadar dari ketenaran dan pengakuan luar. Ketenaran nan didapat tanpa kompetensi sejati hanya bakal menghasilkan nilai diri nan rapuh.

Berbeda dengan pandangan kritis Adorno nan memandang kehendak bakal sorotan kamera sebagai corak penundukan masokis, Abraham Maslow justru menempatkan kemauan bakal kemasyhuran sebagai bagian normal dari jenjang kebutuhan manusia, ialah tingkat kebutuhan bakal penghargaan (esteem needs). Namun, Maslow juga mengingatkan bahwa ketergantungan pada pengakuan eksternal seperti kemasyhuran adalah corak nilai diri nan lebih rendah dan rapuh, nan idealnya kudu dilengkapi dengan penghargaan diri nan berasal dari kompetensi internal.

Jika Adorno memandang gairah itu sebagai penyakit sistemik, Maslow menawarkan solusi individul. Namun, di era digital, solusi Maslow dengan penguatan kompetensi internal acapkali kalah sigap oleh bujukan Adorno, ialah meraup sebanyak mungkin like. Lalu, gimana caranya untuk jujur di tengah hiruk-pikuk kamera dan kata?

Selengkapnya