Duel Berdarah Antar Keluarga di Sampang Saling Lapor ke Polisi, Ini Kronologi Lengkapnya

1 minggu yang lalu 7

Sampang, (Media Madura) – Konflik berdarah antar family di Jalan Rajawali, Kelurahan Karang Dalem, Kota Sampang, Madura, Jawa Timur, berbuntut pada tindakan saling lapor. Polisi tetap memeriksa kedua laporan tersebut.

‎Keluarga Musidah dan Shohibul Anam, didampingi kuasa hukumnya mendatangi Mapolres Sampang pada Rabu (8/7/2026) siang, untuk melaporkan dugaan tindak pidana penganiayaan nan dilakukan Juwairiyah namalain Uwey (47), serta seorang laki-laki berjulukan Umar.

‎Insiden perkelahian antara om dan keponakan itu terjadi pada Selasa (7/7/2026) malam pukul 21.50 WIB. Peristiwa tersebut dipicu akibat cekcok mulut nan menyebabkan jatuh korban.

‎Kuasa Hukum Musidah dan Shohibul Anam, Barry Dwi Pranata, mengatakan kliennya melaporkan kasus tersebut dengan Pasal 466 ayat 1 dan Pasal 466 ayat 2 KUHP tentang tindak pidana penganiayaan.

‎”Kami menerima dua kuasa untuk melaporkan kasus penganiayaan, pengguna kami berjulukan Shohibul Anam dianiaya oleh Uwey, sedangkan Ibu Musidah dianiaya oleh Umar,” ucap Barry kepada wartawan di Mapolres Sampang, Rabu (8/7/2026).

‎Kasi Humas Polres Sampang AKP Eko Puji Waluyo membenarkan atas laporan dugaan penganiayaan nan dilayangkan pelapor. Saat ini pihaknya tetap memeriksa kedua laporan tersebut.

‎”Nanti perkembangannya bakal kami sampaikan,” singkatnya.

‎Kronoligis Kejadian Versi Keluarga Dayat

‎Laporan dugaan penganiayaan tersebut buntut peristiwa pertikaian antara om dan keponakan ialah Uwey dengan Lukman Riyadi namalain Dayat (38). Saat itu keduanya sama-sama menggunakan senjata tajam berjenis parang dan celurit.

‎Menurut keterangan kliennya, lanjut Barry, awalnya Dayat berbareng adik kandungnya ialah Shohibul Anam berada di depan rumah sedang memperbaiki alat-alat pertukangan nan dipersiapkan untuk bekerja keesokan harinya.

‎Tak lama kemudian, Uwey tak lain sang paman, menegur Dayat dan Anam lantaran bunyi bising nan dilakukannya dianggap mengganggu.

‎”Apa beih lem-malem mi’ rammih, tang anak tedhung,”
bunyi Uwey. (arti Bahasa Indonesia, Ada apa malam-malam kok rame, anak saya sedang tidur).

‎”Arapah njek engko tak alakoh e-dhengkanah,” bunyi Dayat menjawab teguran Uwey. (artinya-red, Emang kenapa saya bekerja di rumah sendiri dan tidak menganggu di rumahmu).

‎Tersulut emosi mereka saling cekcok mulut berujung perkelahian hingga tindakan saling serang.

‎Barry menjelaskan, sebelum keributan terjadi Shohibul Anam sempat menenangkan pamannya, Uwey agar meninggalkan letak kejadian nan dikhawatirkan terjadi perkelahian.

‎”Sempat ditenangkan lantaran si Anam ini memandang Uwey di tangan kanan kiri memegang parang, kurang tahu buat apa dan tujuan dia ada di lahan kosong dekat rumah Dayat itu, argumen katanya mau bersih-bersih semak-semak,” kata Barry.

‎Setelah ditenangkan, Uwey tetap tak terima dan terus cekcok mulut. Uwey juga melontarkan kalimat kasar nan menyinggung Dayat.

‎Saling menantang akhirnya Dayat mengambil celurit. Pertikaian pun terjadi antara om dan keponakan.

‎Barry menuturkan, di tengah keributan itu seorang laki-laki berjulukan Umar nan tetap family menghampiri keduanya. Umar datang membawa balok besi nan diarahkan kepada Dayat.

‎Kemudian, Anam beriktikad melerai namun justru terkena sabetan parang oleh Uwey.  Melihat adiknya terluka di bagian tangan kanan, Dayat pun langsung membalas Uwey hingga terluka parah.

‎”Setelah mereka sama-sama terjatuh, Dayat sempat dikeroyok dicekik dan ditendang oleh sekumpulan orang termasuk Umar agar menghentikan pertikaian,” terangnya.

‎Kegaduhan semakin menjadi, Ibu Musidah tak lain orangtua Dayat dan Anam datang menghampiri untuk melerai. Ironinya Ibu Musidah ditampar oleh Umar.

‎”Tangan ibu Musidah sempat dipelintir sama Umar,” jelasnya.

‎Untuk itu kasus penganiayaan tersebut sekarang dilaporkan ke polisi untuk diproses hukum. (Ryan Hariyanto/Znl)

Selengkapnya