Suasana Workshop Naskah Kuno di Aula Santomerto, lantai 2 Perpustakaan Daerah (Perpusda) Sampang. (KLIKMADURA)
SAMPANG || KLIKMADURA – Sebanyak 50 peserta dari unsur pemerintah, pesantren, dan masyarakat umum mengikuti Workshop Naskah Kuno nan digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sampang.
Kegiatan tersebut digelar di Aula Santomerto lantai 2 Perpustakaan Daerah (Perpusda) Sampang, Selasa (15/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, ialah Moh. Ainur Ridho, M.Hum dan Mubti Shohib, M.H. Tidak hanya mendapatkan pemaparan materi, peserta juga diajak mengenali secara langsung tiga naskah antik nan ditemukan di Kabupaten Sampang.
Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai tahapan identifikasi naskah kuno, proses pendaftaran hingga digitalisasi. Peserta juga berkesempatan memandang langsung naskah nan menjadi objek pembahasan sehingga materi nan disampaikan tidak berakhir pada penjelasan di dalam ruangan.
Plt. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sampang, Hj. Chairijah, S.H., M.H., mengatakan workshop tersebut menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan kembali keberadaan naskah antik kepada masyarakat.
Menurut Chairijah, naskah antik tidak sekadar berisi tulisan lama. Di dalamnya terdapat nilai dan pengetahuan nan belum tentu dapat dipahami oleh semua orang.
“Di tulisan alias coretan-coretan mini di situ ada nilai-nilai nan tidak kita ketahui dan tidak semuanya bisa mengartikan. Di sinilah bakal dibahas tentang pentingnya melestarikan naskah kuno,” ujar Chairijah.
Ia juga menyoroti tetap adanya pandangan di tengah masyarakat nan menganggap naskah antik sebagai barang sakral. Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap naskah tersebut perlu diperluas agar keberadaannya dapat dilihat sebagai bagian dari warisan sejarah dan pengetahuan.
“Minimnya pemahaman masyarakat membikin banyak naskah dianggap sakral, tergantung gimana mereka memaknainya,” lanjutnya.
Selama workshop, peserta mendapat penjelasan bahwa naskah antik dapat menjadi sumber untuk mengetahui beragam perihal mengenai sejarah, pemikiran, sastra hingga identitas budaya masyarakat Madura.
Dalam pembahasan juga disampaikan sejumlah persoalan nan dihadapi dalam menjaga naskah kuno. Kondisi bentuk naskah dapat mengalami kerusakan akibat kelembapan, jamur maupun serangan serangga, sementara keahlian membaca aksara lama nan semakin terbatas turut menjadi tantangan tersendiri.
Tidak sedikit pula naskah nan belum terdata dengan baik. Karena itu, identifikasi dan pendaftaran menjadi bagian krusial untuk mengenali sekaligus mendokumentasikan keberadaan naskah kuno.
Digitalisasi kemudian menjadi salah satu materi nan diperkenalkan kepada peserta. Langkah tersebut diperlukan agar info nan tersimpan dalam naskah tetap mempunyai rekam digital dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya tanpa selalu berjuntai pada kondisi bentuk naskah asli.
Kegiatan nan mempertemukan unsur pemerintah, pesantren, dan masyarakat umum tersebut diharapkan tidak hanya memberikan pengetahuan selama workshop berlangsung.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sampang juga mendorong tumbuhnya perhatian masyarakat terhadap naskah antik nan tetap tersimpan di lingkungan mereka. (spg/nda)

36 menit yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·