Bermodal Latihan Singkat, Tiga Santri Syekh Abdurrahman Ukir Juara 1 Debat Mandarin

48 menit yang lalu 1

KABAR MADURA | Persiapan minim tak menghalangi tiga santri Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman meraih prestasi. Hanya dalam beberapa hari latihan, mereka sukses menyabet juara 1 Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2026, Sabtu-Minggu (5-6/9/2026) di Surabaya.

Tiga santri tersebut ialah Nahdinas Syifa, Moh. Taufiqur Rahim, dan Alvin Iskandar. Dalam kejuaraan itu, Nahdinas tampil sebagai pembicara pertama, Taufiqur sebagai pembicara kedua, sedangkan Alvin menjadi pembicara ketiga sekaligus menyampaikan kesimpulan.

Menurut Taufiqur Rahim, prestasi tersebut terasa spesial lantaran menjadi pengalaman pertama bagi ketiganya mengikuti kejuaraan debat. Mereka hanya mempunyai waktu sekitar satu minggu untuk mempersiapkan diri. Latihan intensif apalagi hanya dilakukan selama dua hingga empat hari.

Yang lebih menantang, materi debat baru dimatangkan setelah mereka tiba di Surabaya. Setelah mosi diberikan, ketiganya langsung berbincang untuk menyusun argumen sekaligus menentukan posisi pro alias kontra.

“Jujur, kami otodidak. Tinggal empat hari itu kami belajar langsung ke bahasa Mandarin,” paparnya, Kamis (10/9/2026).

Diakuinya, sebelum berangkat ke Surabaya, mereka hanya membekali diri dengan pemahaman dasar mengenai debat, komunikasi bilateral Indonesia-China, serta mempelajari contoh debat melalui YouTube.

Setibanya di letak lomba, ketiganya langsung mematangkan materi. Mereka membagi peran, menyusun argumentasi, hingga berlatih menyampaikan materi dalam bahasa Mandarin.

Pengasuh Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman, KH Abdul Hamid, menjelaskan, meski tergolong tim debutan dalam kejuaraan debat, ketiganya bukan santri nan dipilih secara tiba-tiba.

Mereka sebelumnya mengikuti program bahasa Mandarin di Pusat Bahasa Internasional Pondok Pesantren Syekh Abdurrahman. Sebelum ditunjuk menjadi delegasi, mereka juga melewati proses seleksi dan uji kompetensi.

“Jadi diseleksi betul siapa nan punya bakat. Artinya melalui tahapan seleksi juga di pondok pesantren untuk mengikuti lomba itu,” jelasnya.

KH Abdul Hamid turut mendampingi langsung para santri selama berada di Surabaya. Menurutnya, pendampingan tersebut bukan hanya untuk memastikan persiapan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri para peserta nan baru pertama kali mengikuti kejuaraan debat.

“Penampilan memerlukan kekuatan mental, kekuatan situasi batiniah, sehingga mereka merasa didukung penuh,” ungkapnya.

Kompetisi tersebut diikuti peserta tingkat SLTA dari beragam wilayah di Indonesia, serta peserta dari kalangan mahasiswa dan umum.

Di tengah persaingan tersebut, tiga santri Syekh Abdurrahman nan berstatus debutan bisa melewati seluruh tahapan kejuaraan hingga keluar sebagai juara pertama.

Bagi KH Abdul Hamid, capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri. Apalagi, prestasi itu diraih dengan waktu persiapan nan relatif singkat.

“Bangga, terharu, dan pastinya berterima kasih kepada Allah,” ujarnya.

Ditegaskannya, kemenangan tersebut menjadi motivasi bagi ketiganya untuk meningkatkan keahlian bahasa Mandarin dan debat. Mereka sekarang membidik kejuaraan pada level nan lebih tinggi, termasuk arena internasional. (iim/rul)

Selengkapnya