Achsanul Qosasi Dorong KEK Tembakau Madura, Sebut Dua Komoditas Unggulan Daerah Belum Terkelola Maksimal

1 jam yang lalu 2

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Guru Besar sekaligus tokoh masyarakat Madura, Prof. Dr. Achsanul Qosasi, mengungkapkan keprihatinannya terhadap ketertinggalan pembangunan di Madura. Menurutnya, dua komoditas unggulan nan menjadi kewenangan daerah, ialah tembakau dan garam, belum dikelola secara optimal padahal mempunyai potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Achsanul Qosasi dalam sebuah podcast nan membahas masa depan dan pembangunan Madura, Senin lampau (17/08/2026).

“Kita mempunyai otoritas nan penuh untuk mengembangkan dua komoditi tersebut untuk menyejahterakan masyarakat Madura,” ujar Achsanul Qosasi.

Dia menilai, berbeda dengan sektor migas nan kewenangannya berada di pemerintah pusat, garam dan tembakau memberikan ruang lebih besar bagi wilayah untuk mengembangkan potensinya. Salah satu upaya nan sekarang tengah diperjuangkan adalah pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura.

Achsanul Qosasi menjelaskan, usulan pembentukan KEK Tembakau Madura saat ini telah memasuki tahap lebih tinggi setelah mendapat support dari beragam komponen masyarakat di Madura.

“Semua tokoh, semua personil masyarakat, semua ulama, Bupati dan juga DPRD sudah menyepakati sebuah area ekonomi khusus, kemudian kita adukan kepada Jawa Timur,” ungkapnya.

Dengan usulan nan sekarang berada di tingkat provinsi, Achsanul Qosasi menegaskan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur mempunyai peran strategis untuk memperjuangkan kepentingan Madura kepada pemerintah pusat.

“Sekarang ranahnya ada di pemerintah provinsi, bukan lagi di tempat kita,” tuturnya.

Untuk memperkuat perjuangan tersebut, dirinya tidak hanya mengandalkan argumentasi politik. Dia mendorong kajian akademik dan pengumpulan info mengenai potensi tembakau Madura melalui serangkaian aktivitas seperti seminar, focus group discussion (FGD), survei, hingga pemetaan potensi. Kegiatan itu melibatkan sejumlah perguruan tinggi di Madura.

“Dari beragam proses tersebut kemudian disusun naskah akademik untuk membuktikan bahwa potensi Madura terhadap tembakau ini besar adanya. Inilah nan kita kirimkan kepada pemerintah provinsi,” ungkapnya.

Presiden Madura United FC itu menegaskan, perjuangannya bukan untuk kepentingan pribadi. Dia mengaku hanya memberikan pendampingan dan masukan teknis kepada anak-anak muda Madura nan turut memperjuangkan pendapat tersebut.

“Bukan Achsanul di sini, tapi ini adalah Madura,” tegasnya.

Di sisi lain, dia juga membujuk generasi muda Madura untuk tidak kehilangan kebanggaan terhadap wilayah asalnya. Dia berambisi mahasiswa dan kaum muda menjadi garda terdepan dalam pembangunan daerah, termasuk mereka nan telah menempuh pendidikan di luar daerah.

“Saya orang Madura asli, tentunya besar dan sekolah di sini. Kalau kembali ke Madura itu adalah sebuah kewajiban,” ujarnya.

Dia mengaku argumen dirinya terus mau kembali dan berkontribusi di Madura tidak terlepas dari ikatan jiwa dengan tanah kelahirannya.

“Saya besar dan makan mulai dari mini di sini, budayanya saya kenal betul dan saya kudu pulang kembali untuk membangun Madura,” katanya.

Achsanul Qosasi menilai tantangan pembangunan Madura tetap cukup besar, terutama dalam perihal indeks pembangunan manusia nan tetap rendah. Sebab itu, pembangunan sumber daya manusia dan pengelolaan potensi ekonomi lokal kudu menjadi perhatian serius.

“Nasibnya pun tidak begitu baik mengenai dengan human index, terutama untuk indeks kemanusiaan kita nan tetap begitu rendah,” katanya.

Ditambahkan, pengembangan potensi ekonomi Madura tidak cukup hanya dengan membicarakan sumber daya alam. Diperlukan keterlibatan seluruh komponen masyarakat, mulai dari pemerintah, akademisi, ulama, hingga generasi muda agar potensi tersebut betul-betul memberikan akibat terhadap kesejahteraan.

“Ini krusial buat bahan obrolan kita ke depan tentang gimana Madura agar lebih makmur dan dicintai oleh rakyatnya sendiri,” pungkasnya. (km97/ong)

Selengkapnya