KABAR MADURA | Penjualan rujak lontong Bu Ani di Jalan Raya Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, mengalami penurunan sepanjang 2026. Jika sebelumnya dagangannya dapat terjual sekitar 100 porsi sehari saat ramai, sekarang pada kondisi sunyi hanya sekitar lima hingga 10 porsi nan terjual.
Penurunan pembeli tersebut terjadi di tengah kenaikan nilai sejumlah bahan baku. Bu Ani nan telah mempertahankan upaya rujaknya selama 36 tahun itu pun mengaku pendapatannya ikut merosot.
“Sekarang agak menurun, tidak seperti dulu. Tahun 2026 ini penjualan memang sangat menurun,” ujar Bu Ani, Kamis (17/9/2026).
Menurut Bu Ani, salah satu perubahan nan paling dirasakan adalah berkurangnya mahasiswa nan membeli rujak. Sebelumnya, mahasiswa di sekitar tempatnya berdagang kerap keluar setelah maghrib untuk mencari makanan dan jajanan.
“Kalau dulu mahasiswa biasanya keluar setelah magrib untuk membeli rujak corek, rujak lontong, alias kerupuk. Sekarang sudah tidak ada,” tuturnya.
Pembeli dari area perumahan sekitar juga tidak selalu ramai. Bu Ani mengatakan peningkatan pembeli biasanya terjadi pada awal bulan, sedangkan memasuki akhir bulan jumlahnya condong berkurang.
“Kalau orang perumahan biasanya sebulan sekali. Kalau awal bulan baru ramai. Kalau sudah tanggal tua, biasanya tidak ada,” jelasnya.
Di tengah penjualan nan menurun, Bu Ani kudu menghadapi kenaikan nilai sejumlah bahan. Dia menyebut nilai cabe mencapai Rp90 ribu per kilogram, kacang Rp45 ribu per kilogram, timun Rp50 ribu per kilogram, keripik Rp20 ribu per kilogram, dan petis Rp35 ribu per kilogram.
“Naik semua sekarang. Cabai Rp90 ribu per kilogram, kacang Rp45 ribu per kilogram, timun Rp50 ribu per kilogram, keripik Rp20 ribu per kilogram, dan petis Rp35 ribu per kilogram,” ungkapnya.
Kondisi tersebut turut berakibat terhadap pendapatannya. Menurut Bu Ani, omzet nan sebelumnya bisa mencapai jutaan rupiah sekarang hanya berkisar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu per hari, meski berdagang hingga tengah malam.
“Kadang dapat Rp200 ribu, kadang Rp150 ribu. Dulu bisa jutaan, sekarang turun menjadi ratusan ribu. Itu pun sampai pukul 12 malam,” katanya.
Meski demikian, Bu Ani tetap mempertahankan upaya nan telah dijalaninya selama 36 tahun. Sebelum konsentrasi menjual rujak, dia sempat berdagang nasi. Namun, keterbatasan tenaga dan modal membuatnya memilih meneruskan upaya nan telah lama digeluti.
“Kalau upaya lain, modalnya tidak ada, Nak. Jadi nan ada saja dijalankan dulu,” ujarnya.
Bagi Bu Ani, terus berdagang menjadi pilihan untuk mempertahankan penghasilan di tengah kondisi nan semakin sulit.
Yang ada saja dijalankan dulu. Apalagi kondisi ekonomi sedang seperti ini,” pungkasnya. (ina/waw)

1 hari yang lalu
8








English (US) ·
Indonesian (ID) ·