Warga Pamekasan Masih Khawatir Pembelian BBM Jeriken Kembali Disalahgunakan

49 menit yang lalu 2

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | BBM jeriken dalam jumlah besar nan dibeli di sejumlah SPBU Pamekasan menjadi sorotan warga. Praktik tersebut dikhawatirkan mengganggu antrean hingga membuka potensi penyalahgunaan distribusi, meski pihak SPBU memastikan pembelian menggunakan surat rekomendasi telah dibatasi melalui kuota dan barcode. 

Salah seorang penduduk Pamekasan nan enggan disebutkan namanya mengaku pernah memandang seorang pembeli membawa lebih dari tiga jeriken sekaligus saat mengantre di salah satu SPBU.

“Kondisi itu nan membikin kekhawatiran kita sebagai masyarakat mengenai ketertiban antrean hingga potensi penyalahgunaan pengedaran BBM di tingkat pengecer,” ungkapnya, Jumat (21/8/2026).

Menanggapi kekhawatiran tersebut, Pengawas SPBU Pamekasan, Sutrisno, menjelaskan bahwa pembelian BBM menggunakan jeriken tetap dapat dilayani sepanjang pembeli memenuhi ketentuan, termasuk mempunyai surat rekomendasi dari dinas terkait.

Menurutnya, setiap pemegang surat rekomendasi mempunyai pemisah pembelian sesuai kebutuhan nan telah ditentukan. Pengisian juga dikontrol melalui sistem barcode sehingga pembelian tidak dapat dilakukan melampaui kuota nan diberikan.

“jeriken tetap ada dan dilayani selama tetap ada surat rekomendasi dari dinas terkait. Namun, itu pun juga ada sasaran di sana, tergantung kebutuhannya. Jika pembelian melampaui target, maka barcode tidak bisa digunakan,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Sutrisno memastikan pembelian menggunakan jeriken tersebut mempunyai alokasi tersendiri sehingga masyarakat tidak perlu cemas bakal mengganggu kesiapan BBM untuk konsumen kendaraan.

Mengenai kondisi pasokan hingga Agustus 2026, dia memastikan stok BBM di SPBU tetap dalam kondisi aman. Kendala nan terkadang terjadi, menurutnya, sebatas keterlambatan pengedaran lantaran kudu menunggu giliran pengiriman.

“Kejadian kurang lebih sama seperti nan lalu, stok tidak ada masalah. Paling hanya pengiriman nan kadang kudu nunggu giliran,” jelasnya.

Di sisi lain, Sutrisno mengakui terdapat perubahan pola konsumsi BBM. Sejumlah pengguna Pertamax disebut mulai beranjak menggunakan Pertalite, meski jumlahnya tidak dapat dipastikan.

“Secara nomor pasti tidak bisa dihitung, tapi tetap ada beberapa nan pindah haluan. Namun, untuk pengguna Pertamax ini biasanya konsumen nan ekstrem ke mesin kendaraan agar awet dan menjaga performa. Jadi, walaupun pindah, tetap ada kalanya kembali lagi ke Pertamax,” pungkasnya.

Dia meminta masyarakat tidak panik ketika memandang pembelian BBM menggunakan jeriken dalam jumlah besar. Sebab, pembelian nan mempunyai surat rekomendasi telah dibatasi melalui kuota dan barcode sesuai kebutuhan masing-masing penerima.

Sebelumnya, mengenai surat rekomendasi tersebut, tim pemantau dari Pemkab Pamekasan menemukan  sejumlah surat rekomendasi nan masa berlakunya telah lenyap namun konsumen tersebut tetap dilayani SPBU untuk bisa membeli BBM subsudu.

Bahkan munculnya temuan masyarakat tentang adanya makelar nan bisa menyediakan surat rekomendasi. Calo tersebut memberlakukan  tarif Rp100 ribu per surat rekomendasi. 

DKPP Pamekasan juga sepat mengambil tindakan tegas dengan membekukan serta memblokir sebanyak 221 akun MyPertamina milik masyarakat untuk pembelian pertalite dan solar lantaran i melanggar patokan dan menyalahgunakan dokumen.

Selain itu, publikasi dan perpanjangan surat rekomendasi unik BBM jenis pertalite dihentikan sejak 10 Juli 2026 untuk meredam rumor serta melakukan pembenahan internal. (fit/waw)

Selengkapnya