Tingkatkan Mutu Pendidikan Kepulauan, SKK Migas–KEI Bekali Guru dengan Kompetensi Digital

44 menit yang lalu 1

Tingkatkan Mutu Pendidikan Kepulauan, SKK Migas–KEI Bekali Guru dengan Kompetensi Digital

LIMADETIK.COM, SUMENEP – Peningkatan kompetensi pembimbing non-PNS di wilayah kepulauan menjadi konsentrasi SKK Migas–Kangean Energy Indonesia (KEI) melalui training digitalisasi pembelajaran berbasis kondisi lokal. Program ini menyasar pembimbing di Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, agar bisa menyusun bahan ajar nan relevan dengan lingkungan dan kebutuhan peserta didik.

Pelatihan berjudul Program GEMILANG (Gerakan Meningkatkan Ilmu dan Keterampilan Guru) tersebut berjalan di Pagerungan Besar pada 13–15 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas–KEI Tahun 2026.

Dosen Universitas PGRI (UPI) Sumenep, Syaiful Bahri, selaku narasumber, menjelaskan bahwa training difokuskan pada penguatan pemahaman pembimbing terhadap digitalisasi pembelajaran, mulai dari perubahan paradigma pendidikan hingga penyusunan bahan ajar berbasis etnopedagogi.

Melalui pendekatan tersebut, pembimbing didorong untuk mengintegrasikan kondisi sosial, budaya, dan lingkungan setempat ke dalam materi pembelajaran. Dengan demikian, bahan ajar tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi juga dekat dengan kehidupan sehari-hari peserta didik di Pagerungan Besar dan Pagerungan Kecil.

“Harapannya, pembimbing dapat menerapkan explaining building the context, sehingga memberikan pemahaman sesuai dengan konteksnya,” ujar Syaiful.

Pelatihan bersambung pada penyusunan perencanaan pembelajaran dalam corak modul ajar alias Rencana Pembelajaran Mendalam (RPM), hingga penyusunan asesmen. Tahapan ini diharapkan membantu pembimbing menerapkan hasil training secara langsung dalam proses belajar mengajar.

Menurut Syaiful, materi nan diberikan sesuai dengan kebutuhan pembimbing di wilayah kepulauan, terutama untuk memperkuat pemahaman dasar mengenai pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran.

“Para pembimbing butuh treatment untuk mendapatkan esensial knowledge tentang digitalisasi pembelajaran,” katanya.

Manfaat training juga dirasakan peserta. Misbahus Zaman, pembimbing SMAI Hubaibah, mengaku memperoleh tambahan pengetahuan nan dapat mendukung peningkatan kualitas pembelajaran dan pendampingan terhadap peserta didik.

Ia berambisi program serupa dapat terus dilaksanakan agar peningkatan kompetensi pembimbing di wilayah kepulauan berjalan secara berkelanjutan.

“Semoga ke depan aktivitas ini terus dilakukan untuk meningkatkan kompetensi pembimbing di kepulauan,” ujarnya.

Dukungan terhadap program tersebut disertai angan agar training tidak berakhir pada aktivitas sesaat. Tenaga Ahli Bupati Sumenep, Prof. Mohammad Ali Al-Humaidy, menilai inisiatif SKK Migas–KEI merupakan corak kepedulian perusahaan terhadap pengembangan sumber daya manusia, khususnya di sektor pendidikan.

Namun, dia menekankan pentingnya tindak lanjut nan konkret agar faedah program dapat dirasakan secara berkepanjangan oleh para pembimbing dan masyarakat.

“Harapan kami, aktivitas ini tidak semata-mata seremonial, namun betul-betul ditindaklanjuti dengan program-program nan lebih konkret,” tegasnya.

Ia mengusulkan agar hasil training ditindaklanjuti melalui obrolan golongan terarah alias focus group discussion (FGD). Forum tersebut dapat dimanfaatkan untuk memetakan hambatan nan dihadapi pembimbing sekaligus merumuskan solusi berbareng masyarakat dan pihak terkait.

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Sumenep, Abd. Wasid, menegaskan bahwa pembimbing mempunyai peran krusial dalam menentukan kualitas pendidikan dan kemajuan bangsa.

Ia juga mendorong agar training dikembangkan ke materi nan lebih relevan dengan perkembangan teknologi, termasuk pembuatan media pembelajaran digital dan pemanfaatan kepintaran buatan (artificial intelligence/AI).

“Ini adalah kebutuhan pembimbing terkini. Ini bisa terus dilanjutkan,” ujarnya.

Melalui Program GEMILANG, peningkatan kompetensi pembimbing di wilayah kepulauan diharapkan tidak hanya berakhir pada penguasaan teknologi, tetapi juga mendorong lahirnya pembelajaran nan kontekstual, adaptif, dan sesuai dengan karakter peserta didik.

“Keberlanjutan program menjadi krusial agar pengetahuan nan diperoleh selama training betul-betul diterapkan di ruang kelas” pungkas Abd. Wasid.

Penulis : Wahyu

Editor : Wandi

Follow WA Channel limadetik.com untuk pembaruan buletin terbaru setiap hari Follow

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0