Petani Garam Sampang Bergantung pada Segelintir Gudang, Pembeli Alternatif Dibutuhkan

1 jam yang lalu 1

Tumpukan garam berada di tempat penyimpanan milik PT. Garam (persero) di Kabupaten Sampang. (KLIKMADURA)

SAMPANG || KLIKMADURA – Petani garam di Kabupaten Sampang tetap menghadapi keterbatasan pilihan pasar untuk menjual hasil panen mereka. Ketergantungan pada sejumlah penyimpanan besar membikin posisi tawar petani lemah, terutama dalam menentukan nilai jual garam.

Sejumlah pembeli nan selama ini menjadi tujuan penjualan garam petani di antaranya Sumatra Co, Susanti, PT Garam, dan H. Her. Terbatasnya pilihan tersebut membikin petani mempunyai ruang nan sempit untuk membandingkan penawaran nilai maupun mencari pembeli alternatif.

Petani garam asal Sampang, Mat Tasan, mengatakan pola perdagangan tersebut telah berjalan sejak lama. Meski terkadang ada penduduk bermodal nan membeli garam langsung dari tambak, hasil pembelian itu pada akhirnya tetap mengalir ke gudang-gudang besar.

“Dari dulu memang hanya dijual ke situ, kadang ada masyarakat nan punya modal membeli dari tambak, tapi kelak tetap dijual ke gudang-gudang itu,” ujar Tasan, Sabtu (17/10/2026).

Ketergantungan terhadap pembeli tertentu juga berakibat pada kepastian nilai nan diterima petani. Menurut Tasan, petani tidak selalu mengetahui nilai garam pada awal musim produksi lantaran nilai jualnya baru diketahui ketika panen berjalan dan transaksi mulai berjalan.

“Harga terserah gudang, awal musim kita belum tahu nilai per sak alias per kilo, baru di musim panen ketahuan harganya berapa,” imbuhnya.

Kondisi tersebut membikin petani condong mengikuti nilai nan tersedia di pasar. Ketika pilihan pembeli terbatas, kesempatan untuk mendapatkan penawaran lebih kompetitif maupun mengalihkan penjualan kepada pihak lain menjadi semakin kecil.

Dosen Ilmu Ekonomi, Ana Intan, menilai pola perdagangan semacam itu berisiko membuka ruang bagi terbentuknya praktik monopoli andaikan penguasaan pasar terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha.

Karena itu, ekspansi akses pasar dan bertambahnya jumlah pembeli dinilai krusial untuk menciptakan persaingan nan lebih sehat.

“Praktik semacam itu rawan menjadi cikal bakal monopoli,” jelas Ana.

Menurutnya, masuknya lebih banyak penanammodal ke dalam rantai perdagangan garam di Sampang dapat memperluas pilihan penjualan bagi petani.

Bertambahnya jumlah pembeli berpotensi meningkatkan persaingan dalam menyerap hasil panen sehingga petani mempunyai kesempatan lebih besar untuk memperoleh nilai nan layak.

“Semakin banyak penanammodal nan masuk dalam peredaran garam di Sampang, maka kesempatan nilai nan lebih layak juga makin tinggi,” tambahnya.

Bagi petani garam Sampang, ekspansi akses pasar menjadi kebutuhan krusial agar penjualan hasil panen tidak terus berjuntai pada pembeli nan sama.

Kehadiran pembeli pengganti diharapkan membuka ruang bagi petani untuk membandingkan harga, memilih saluran distribusi, serta memperkuat posisi tawar dalam perdagangan garam. (ali/nda)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0