Sumenep (Madura Today) – Kematian Moh. Firman Ramadhani (22), penduduk Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, pasien Rumah Sakit Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, Jawa Timur, dipersoalkan pihak keluarga.
Keluarga menduga ada kelalaian dalam penanganan medis sebelum akhirnya pasien itu dinyatakan meninggal bumi pada Selasa (13/10/2026) pagi.
Kecurigaan family muncul setelah kondisi Firman disebut memburuk tidak lama setelah mendapat suntikan dari perawat sekitar pukul 05.00 WIB.
“Kondisi pasien telah membaik dan sudan dibolehkan pulang oleh master nan menangani namun tiba-tiba mengalami muntah, kejang, dan meninggal bumi sekitar satu jam kemudian,” kata personil family pasien berinisial Y. Rabu, (14/10/2926).
Y menambahkan, pada saat bersamaan, infus pasien disebut mengalami kemacetan dan perawat kemudian mematikan infus dan meninggalkan pasien ketika tetap mengalami muntah-muntah.
Dirinya mengaku tidak memandang tanda-tanda kondisi Firman memburuk. Pasien apalagi tetap sempat berkomunikasi dengan family dan bermain telepon genggam.
“Kondisi Firman tiba-tiba berubah memburuk setelah disuntik oleh perawat. Busa nan keluar dari hidung kanan berwarna merah, sedangkan dari hidung kiri berwarna hitam, wajah dan bibirnya menghitam, matanya melotot, lampau kejang,” bebernya.
Keluarga juga mengaku sempat meminta support perawat ketika memandang kondisi Firman memburuk. Namun, menurut Y, upaya itu tidak segera mendapat respon.
Keluarga turut mempertanyakan kemungkinan reaksi obat alias kesalahan pemberian dosis setelah suntikan diberikan. Keluarga menilai perlu ada penjelasan mengenai jenis obat, dosis, kondisi pasien sebelum penyuntikan, serta respon tenaga medis ketika pasien mengalami indikasi nan mengkhawatirkan.
Meski demikian, dugaan family mengenai malapraktik, keracunan, alias overdosis belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian Firman. Penentuan penyebab kematian dan ada tidaknya kelalaian medis memerlukan pemeriksaan serta keterangan dari pihak nan berwenang.
Manager Humas dan Marketing RS BHC Sumenep, Sandra Rahestri, mengatakan, manajemen belum bisa menyampaikan keterangan lebih lanjut lantaran proses penelusuran tetap berlangsung.
“Terkait buletin nan sedang beredar, kami dari manajemen belum bisa menyampaikan penjelasan mengenai perihal ini. Agenda kami pagi ini tetap dilakukan investigasi secara internal,” kata Sandra, Rabu (14/10/2026).
Media ini tetap membuka ruang kewenangan jawab bagi manajemen RS BHC Sumenep agar seluruh info mengenai peristiwa tersebut dapat disampaikan secara berimbang.
Hayat
Hayat adalah wartawan Lulusan Terbaik Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Jenjang Muda Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS) Jakarta Tahun 2026.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·