Kehadiran

1 jam yang lalu 1

HUT RI ke-81

Oleh: Ahmad SahidahDosen Program S3 Al-Qur’an dan Media Sosial Universitas Nurul Jadid.

Dulu, setiap kali dipresensi oleh ustaz madrasah, saya dan teman-teman sekelas menjawab hadir. Tetapi, di sekolah dasar, kami menyahut ada bila dipanggil oleh guru. Keduanya sama-sama menyatakan keberadaan di sebuah tempat dengan bahasa nan berbeda. Lalu, apakah secara eksistensial kita betul-betul hadir? Mengapa kita hadir? Apa nan menghalangi hadir? Dan untuk apa hadir dalam sebuah kegiatan?

Lalu, di era teknologi informasi, banyak orang sering kali mengalami keteralihan dari sebuah aktivitas lantaran acapkali berselancar di media sosial untuk datang di pelbagai platform, seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan X (sebelumnya Twitter). Tidak dapat dielakkan, kita bisa memandang dari dekat begitu banyak orang nan memilih memandang konten, memperbarui status, dan mengunggah foto ketimbang menekuri acara tertentu.

Mengapa banyak orang tidak lagi mengada dalam aktivitas nan diikuti? Padahal secara sederhana, dia sedang mengikuti aktivitas pelantikan, misalnya, nan diharapkan dapat mendengarkan sambutan, menghargai orang nan dilantik, dan mengikuti prosesi hingga akhir. Malangnya, kebanyakan orang biasanya menunduk,bukan khusyuk, tetapi memelototi layar. Malah, dalam satu waktu, tuan rumah merasa tamu nan saya temani tak tahu diri kala menjamu makan siang lantaran nan berkepentingan bermain telepon.

Berdasarkan kejadian ini, kita bisa menimbang apa nan diketengahkan oleh Simone Weil, filsuf Prancis,yang menyodorkan buahpikiran tentang perhatian. Bagi Weil, perhatian sejati bukanlah sekadar konsentrasi. Ia adalah penantian nan penuh persepsi, nan membiarkan realitas lain masuk ke dalam diri kita tanpa direcoki oleh ego. Para pengikut Weil menyoal perhatian palsu nan didorong oleh teknologi, ialah konsentrasi dangkal di permukaan, alih-alihperhatian sejati yang membawa manusia pada realitas. Kenyataan apa nan hendak dijalani jika seseorang lebih memilih bumi maya?

Keasyikan seseorang untuk senantiasa memeriksa notifikasi alias menggulir (scrolling) media sosial di sela aktivitas adalah contoh sempurna dari perhatian palsu. Ia hanya pemastian pada permukaan nan justru menjauhkan mereka dari kedalaman momen dan orang lain. Ketergantungan pada konten dan status media sosial secara sembari lampau sebenarnya telah menghilangkan keahlian seseorang untuk memusatkan perhatian nan memungkinkan untuk menjalani sesuatu secara utuh.

Dalam diskusi, rapat, dan apalagi pengajian, perhatian sejati memungkinkan kita untuk betul-betul mendengarkan, memahami, dan menanggapi secara autentik, bukan sekadar mengikuti arus alias bunyi terbanyak. Tetapi, malangnya, gawai telah merampas perhatian kita pada percakapan untuk membahas agendayang telah ditetapkan dalam surat undangan. Dalam bab kedua “Uprootedness” dari kitab The Need for Roots(1952: 41), Weil membayangkan bahwa distraksi secara simbolik mencabut diri kita dari organisasi nan datang di sini dan sekarang dan menanamkan diri kita di bumi maya nan abstrak. Padahal, kedisinian dan kesekarangan adalah kata kunci untuk menikmati suasanasecara saksama.

Untuk itu, dengan melawan distraksi kita hakikatnya hendak menemukan kedalaman. Filsuf wanita nan wafat di usia muda itu mengajarkan bahwa pendidikan dan kehidupan spiritual bermulai dari pengembangan perhatian, nan disebut intens dalam agama. Apabila gawai mengalihkan perhatian, kita telah kehilangankesempatan untuk menemukan kebenaran dan keelokan nan muncul dari interaksi langsung dan refleksi mendalam, baik dalam percakapan ilmiah maupun ibadah. Lagi-lagi, notifikasi gawai bisa membuyarkan pembaca surah Yasin di telepon dan tak jarang mulut membaca Al-Qur’an, tetapi jari memeriksa pesan di WhatsApp dalam sebuah aktivitas haul.

Dalam perihal ini, Weil mengajarkan bahwa tanggungjawab (obligation) lebih mendasar daripada kewenangan (right). Untuk itu, datang secara utuh dalam sebuah aktivitas bukanlah sekadar kewenangan alias pilihan pribadi, melainkan tanggungjawab etis terhadap pembicara, sesama peserta, dan terhadap diri sendiri. Tatkala mengutamakan gawai, kita telah menafikan tanggungjawab untuk memberikan perhatian, nan sekarang merupakan corak kemurahan hati nan paling langka dan murni. Jika abai pada liyan dan keadaan, kita kikir secara intelektual dan spiritual.

Selengkapnya