
Kabar baik datang dari perkembangan inflasi Kabupaten Sumenep. Tekanan kenaikan nilai peralatan dan jasa pada Oktober 2026 mulai melandai. Namun, penurunan laju inflasi belum sepenuhnya berfaedah masyarakat bisa bernapas lega. Sejumlah kebutuhan pokok justru tetap mengalami kenaikan harga.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumenep mencatat inflasi bulanan pada Oktober 2026 sebesar 0,11 persen. Angka tersebut turun dibandingkan September nan mencapai 0,28 persen.
Dalam rilis Kepala BPS Kabupaten Sumenep, Handoyo Wijoyo, menyampaikan bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 116,36 menjadi 116,49. Sementara inflasi tahunan tercatat 3,32 persen, turun dari 3,85 persen pada bulan sebelumnya.
Meski melandai, posisi Sumenep tetap berada di ranking keempat tertinggi di Jawa Timur untuk inflasi bulanan. Adapun inflasi tahunan menempati posisi ketiga tertinggi setelah Kota Madiun dan Kota Surabaya.
Yang menarik, beras menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,10 persen. Harganya naik 1,63 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Tekanan juga datang dari cabe merah nan melonjak 43,56 persen, tomat 25,07 persen, dan ketimun 20,27 persen.
Sebaliknya, penurunan nilai daging ayam ras, telur ayam ras, semangka, udang basah, dan sejumlah komoditas lain membantu menahan laju inflasi.
Dalam catatan tahunan, emas perhiasan juga menjadi perhatian. Harganya meningkat 7,55 persen dibandingkan Oktober 2025 dengan andil inflasi 0,34 persen.
Data ini menunjukkan bahwa inflasi nan melandai belum otomatis berfaedah nilai kebutuhan masyarakat turun. Harga tetap bergerak naik, hanya kecepatannya nan berkurang.
Karena itu, pekerjaan pemerintah wilayah bukan berakhir pada menjaga nomor inflasi, tetapi memastikan stabilitas pasokan dan keterjangkauan nilai betul-betul dirasakan masyarakat hingga wilayah kepulauan Sumenep. (bahri)

2 jam yang lalu
6








English (US) ·
Indonesian (ID) ·