portalmadura.com — Harga perak batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami penurunan pada perdagangan Rabu (14/10/2026). Penurunan nilai perak domestik ini merespons tekanan nan sedang terjadi pada pasar komoditas perak secara global.
Mengutip laporan dari Vibiznews.com pada Rabu (14/10/2026), nilai perak Antam hari ini terkoreksi sebesar Rp600 per gram, sehingga harganya berada di level Rp39.700 per gram. Tren penurunan ini melanjutkan tindakan koreksi pada hari sebelumnya, Selasa (13/10/2026), ketika nilai perak Antam terpangkas Rp650 menjadi Rp40.300 per gram.
Tekanan Pasar Global Jelang Rilis Data Inflasi AS
Pelemahan nilai perak Antam sejalan dengan merosotnya nilai perak di pasar internasional. Pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026), nilai perak spot merosot tajam 1,87 persen ke posisi $59,17 per ons. Sementara itu, perjanjian perak berjangka AS untuk pengiriman Desember 2026 ikut tertekan 1,63 persen dan ditutup pada level $59,20 per ons.
Aksi lepas posisi oleh para pelaku pasar menjadi pemicu utama penurunan nilai komoditas ini. Para penanammodal memilih untuk mengurangi akibat sembari menantikan rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) alias info inflasi AS periode September pada Rabu malam.
Selain rilis info inflasi, ekspektasi pasar nan kuat terhadap kenaikan suku kembang referensi oleh Bank Sentral AS (The Fed) pada Desember turut membebani pergerakan perak. Saat ini, pelaku pasar memperhitungkan probabilitas kenaikan suku kembang sebesar 88 persen pada Desember dan 19 persen untuk periode Oktober. Kondisi tersebut mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun naik melampaui level 4,81 persen.
Sektor Industri dan Prospek Pergerakan Perak
Dari sisi permintaan industri, perak juga menghadapi sentimen negatif akibat penurunan nilai saham di sektor semikonduktor dan kekhawatiran terhadap melesunya konsumsi industri global. Kenaikan rasio harga emas terhadap perak semakin memperkuat tren pelemahan tersebut.
Meskipun demikian, penurunan nilai perak tetap tertahan oleh melandainya indeks dolar AS dari posisi tertingginya dalam 18 bulan terakhir. Pergerakan nilai minyak mentah bumi nan bervariasi juga membantu menahan koreksi perak agar tidak merosot lebih dalam.
Analis dari Vibiz Research Center memperkirakan arah pergerakan nilai perak selanjutnya sangat berjuntai pada rilis info ekonomi Amerika Serikat. Apabila nomor inflasi AS tercatat lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku kembang The Fed bakal mereda, sehingga berpotensi menekan dolar AS dan memberi ruang bagi nilai perak untuk bangkit.
Sebaliknya, jika nomor inflasi AS memperkuat tinggi alias eskalasi geopolitik di Timur Tengah kembali mendongkrak nilai energi, nilai perak diprediksi tetap bakal menghadapi tekanan lanjutan. Untuk perdagangan jangka pendek, nilai perak spot diperkirakan bergerak pada rentang pemisah bawah (support) $58,48–$57,78 dan pemisah atas (resistance) $60,29–$61,40.

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·