KOARANMADURA.com – Kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tertentu rupanya dapat memengaruhi kadar gula darah. Bukan hanya teh manis, permen, alias minuman bersoda, makanan pokok seperti nasi putih, mi, dan roti juga dapat memicu kenaikan gula darah jika dikonsumsi dalam jumlah berlebihan.
Kondisi ini perlu menjadi perhatian, terutama bagi penderita glukosuria alias orang nan mempunyai akibat mengalami gangguan kadar gula darah. Mengatur pola makan, memilih jenis makanan nan tepat, dan memperhatikan ukuran porsi menjadi langkah krusial untuk menjaga kesehatan.
Seperti dikutip dari situs Centers for Disease Control and Prevention (CDC), karbohidrat dalam makanan bakal dipecah menjadi glukosa nan kemudian meningkatkan kadar gula darah. Karena itu, pemilihan jenis karbohidrat dan pengaturan porsinya perlu diperhatikan dalam pola makan sehari-hari.
Minuman Manis hingga Nasi Putih Perlu Diperhatikan
Salah satu jenis konsumsi nan perlu dibatasi adalah minuman manis, seperti teh manis, kopi dengan tambahan gula, minuman bersoda, sirup, dan minuman kemasan.
Minuman tersebut dapat mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi. Jika dikonsumsi berlebihan, asupan gula dapat menyulitkan pengendalian kadar gula darah, terutama pada orang nan mengalami gangguan metabolisme glukosa.
Selain minuman manis, makanan pokok seperti nasi putih, mi, roti putih, dan bubur juga perlu diperhatikan porsinya. Makanan tersebut mengandung karbohidrat nan dapat meningkatkan kadar gula darah setelah dikonsumsi.
Seperti dikutip dari situs CDC, memilih sumber karbohidrat nan lebih baik dan memperhatikan jumlah konsumsinya merupakan bagian dari pola makan sehat, khususnya bagi penderita diabetes.
Meski demikian, bukan berfaedah nasi putih dan sumber karbohidrat lainnya kudu dihindari sepenuhnya. Pengaturan porsi serta kombinasi dengan sayuran dan sumber protein dapat membantu menciptakan menu makan nan lebih seimbang.
Kue, Permen, dan Makanan Tinggi Gula Sebaiknya Dibatasi
Kue, donat, permen, biskuit manis, dan makanan penutup merupakan contoh makanan nan umumnya mengandung gula tambahan alias karbohidrat olahan.
Jika dikonsumsi terlalu sering dalam jumlah besar, makanan tersebut dapat menyulitkan pengendalian gula darah. Karena itu, membatasi makanan tinggi gula menjadi salah satu langkah nan dapat dilakukan untuk memperbaiki pola makan.
Sebagai pengganti camilan, masyarakat dapat memilih buah utuh, seperti apel, jeruk, alias pir. Buah menyediakan serat, vitamin, dan mineral nan dibutuhkan tubuh. Namun, ukuran porsi tetap perlu diperhatikan lantaran buah juga mengandung karbohidrat alami.
Seperti dikutip dari situs National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), pola makan sehat merupakan salah satu bagian krusial dalam pengelolaan diabetes. Pengaturan makanan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing individu.
Gorengan dan Makanan Cepat Saji Juga Perlu Dibatasi
Gorengan dan makanan sigap saji tidak selalu menyebabkan kenaikan gula darah secara langsung. Namun, konsumsi berlebihan dapat meningkatkan asupan kalori dan lemak nan kurang sehat, sehingga berpotensi memengaruhi berat badan dan kesehatan metabolisme.
Gorengan berbahan tepung, seperti bakwan dan pisang goreng, juga mengandung karbohidrat nan dapat memengaruhi kadar gula darah.
Masyarakat dapat mempertimbangkan metode memasak nan lebih sehat, seperti merebus, mengukus, alias memanggang makanan. Selain itu, memperbanyak sayuran dan memilih sumber protein seperti ikan, telur, tahu, serta tempe dapat membantu menciptakan menu makan nan lebih seimbang.
Sayuran dan Protein Bisa Menjadi Pilihan
Untuk membantu mengendalikan gula darah, masyarakat perlu memperhatikan komposisi makanan dalam setiap kali makan.
Sayuran seperti bayam, kangkung, brokoli, dan buncis dapat menjadi pilihan lantaran kaya serat dan relatif rendah karbohidrat. Sementara itu, ikan, telur, ayam tanpa kulit, tahu, dan tempe dapat memenuhi kebutuhan protein.
Seperti dikutip dari situs CDC, metode piring makan dapat digunakan sebagai pedoman sederhana untuk mengatur porsi, ialah separuh piring diisi sayuran nontepung, seperempat piring protein, dan seperempat piring makanan sumber karbohidrat.
Pola tersebut membantu mengatur komposisi makanan agar lebih seimbang. Meski begitu, kebutuhan setiap orang dapat berbeda, khususnya bagi penderita glukosuria nan menggunakan obat alias insulin.
Gula Darah Tinggi Tidak Hanya Dipengaruhi Makanan
Selain makanan, kadar gula darah juga dapat dipengaruhi oleh aktivitas fisik, stres, kondisi tubuh saat sakit, serta kecukupan insulin.
Karena itu, menjaga gula darah tidak cukup hanya dengan menghindari makanan manis. Kebiasaan makan teratur, aktivitas fisik, pemeriksaan gula darah, dan kepatuhan terhadap pengobatan juga berkedudukan penting.
Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula hipertensi secara berulang, masyarakat sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan penanganan nan sesuai.
Pada akhirnya, menjaga gula darah bukan berfaedah kudu menghindari seluruh makanan nan mengandung karbohidrat. Langkah nan lebih tepat adalah membatasi gula tambahan, mengatur porsi, memilih makanan berserat, serta menerapkan pola makan seimbang sesuai kebutuhan tubuh. (*)

1 jam yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·