Berawal dari Dapur Rumah, Bolen Bos Sumenep Buatan Nur Hayati Tembus Pasar Luar Madura

2 jam yang lalu 1

HUT RI ke-81

KABAR MADURA | Semangat mewujudkan kemandirian ekonomi mendorong Nur Hayati untuk berani membangun upaya sendiri. Berawal dari dapur rumah di Dusun Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep, wanita kelahiran 1999 itu sekarang sukses mengembangkan Bolen Bos Sumenep hingga menjangkau konsumen di luar Madura. 

Usaha nan dirintis sejak Januari 2026 tersebut menjadi langkah Yati untuk menciptakan sumber penghasilan secara mandiri. Usahanya dimulai semuanya dari kesempatan sederhana nan dilihat di lingkungan sekitar, ialah tetap sedikitnya pelaku upaya nan menjual bolen.

Alih-alih menunggu kesempatan datang, Yati memilih belajar dan mencoba. Memanfaatkan media sosial untuk mempelajari langkah membikin bolen, kemudian melakukan beragam percobaan hingga menghasilkan produk nan dinilai layak dipasarkan. 

“Awalnya lantaran jarang orang nan berdagang bolen. Saya kemudian belajar dari media sosial gimana langkah membuatnya,” kata Yati. 

Dari proses tersebut, lahirlah Bolen Bos Sumenep. Nama itu sekaligus menjadi motivasi bagi Yati untuk membangun kemandirian melalui upaya nan dikelolanya sendiri. 

Kini, produknya tidak lagi hanya mengandalkan satu jenis rasa. Bolen Bos Sumenep telah mempunyai tujuh varian, mulai dari bolen pisang cokelat, pisang cokelat keju, pisang keju, ubi ungu, tape cokelat, tape original hingga chicken bolognese. 

Keberagaman produk menjadi bagian dari strategi Yati untuk mempertahankan upaya di tengah persaingan UMKM nan semakin ketat. Dia menyadari bahwa penemuan diperlukan agar produknya mempunyai pembeda dan konsumen tidak mudah beralih. 

“Agar pengguna juga mempunyai lebih banyak pilihan,” ujarnya. 

KM/IST | MANIS BERBUAH: Nur Hayati menyiapkan produk Bolen Bos di rumahnya di Dusun Ketawang Laok, Kecamatan Guluk-guluk, Sumenep. Usaha nan dirintis sejak Januari 2026 tersebut sekarang menjangkau konsumen hingga luar Madura.

Kemandirian nan dibangun Yati juga terlihat dari langkah dia memasarkan produknya. Dengan memanfaatkan media sosial dan sistem open order, Bolen Bos Sumenep bisa menjangkau pengguna dari beragam wilayah. 

Pesanan tidak hanya datang dari Guluk-guluk dan Ganding. Konsumen dari Kota Sumenep, Manding, Bluto, Lenteng hingga Dungkek juga mulai mengenal produknya. 

Bahkan, pasar Bolen Bos Sumenep perlahan menembus luar Madura. Yati menyebut pesanan telah datang dari Sidoarjo, Malang, Tegal, Yogyakarta hingga Nganjuk. Pengiriman dilakukan menggunakan jasa pengiriman. 

“Yang membeli ada juga nan dari luar Sumenep. Seperti Sidoarjo, Malang, Tegal, Jogja dan Nganjuk,” ungkapnya. 

Untuk menjaga agar produknya tetap bisa dijangkau beragam kalangan, Yati menawarkan nilai mulai Rp15 ribu untuk series mini. Sementara jenis jumbo dibanderol hingga Rp55 ribu per bungkus. 

Dalam menjalankan usahanya, Yati juga mendapat support dari keluarga. Suaminya, Muhammad Sofyan, turut membantu proses produksi, sedangkan mertuanya menangani bagian oven. 

Usaha nan berasal dari skala rumahan itu sekarang juga mulai diperkuat dari sisi legalitas. Bolen Bos Sumenep telah mengantongi nomor induk berupaya (NIB) dan sertifikat halal.

Bagi Yati, membangun upaya secara berdikari tidak berfaedah melangkah tanpa evaluasi. Masukan dari konsumen justru menjadi salah satu modal krusial untuk memperbaiki kualitas sekaligus mengembangkan produk.

“Saya terus menerima masukan dari semua konsumen, makanya terus berkembang,” tuturnya. 

Di tengah perjalanan, beragam tantangan tetap dihadapi. Fluktuasi nilai bahan baku, pesanan nan belum stabil hingga persaingan dengan upaya sejenis menjadi pekerjaan rumah nan kudu diselesaikan. 

Namun, Yati memilih tidak menjadikan tantangan tersebut sebagai argumen untuk berhenti. Ia terus memperbanyak penemuan dan menjaga kualitas produk agar Bolen Bos Sumenep mempunyai karakter tersendiri. 

“Sekarang memang sudah banyak nan menjual bolen, tetapi saya terus berinovasi dengan memperbanyak jenis agar ada pembeda,” tegasnya. 

Yati berambisi upaya nan dibangunnya dari dapur rumah tersebut bisa berkembang menjadi UMKM nan semakin kuat dan mandiri. Ia mau Bolen Bos Sumenep tidak hanya dikenal masyarakat Sumenep, tetapi juga bisa memperluas pasar ke beragam daerah. 

Menurutnya, kemandirian ekonomi bisa dibangun dari langkah sederhana selama seseorang berani memulai dan konsisten mengembangkan usaha. 

“Bagi saya membuka upaya tidak kudu selalu dimulai dengan modal besar. nan terpenting keberanian memandang peluang, kemauan belajar, serta konsistensi dalam mengembangkannya,” pungkasnya. (ara/waw)

Selengkapnya