Tidak Kebagian Revitalisasi, Siswa SDN Banjar 4 Bangkalan Masih Belajar di Kelas Bambu

15 jam yang lalu 4

KABAR MADURA | Sekolah Dasar Negeri (SDN) Banjar 4, Desa Banjar, Kecamatan Galis, Bangkalan, belum mendapatkan support revitalisasi pada 2026. Padahal, sekolah itu tetap kekurangan ruang kelas sehingga sebagian siswa terpaksa belajar di ruang darurat berbahan bambu.

Selama belasan tahun beroperasi, SDN Banjar 4 hanya mengandalkan lima ruang kelas untuk menampung enam rombongan belajar (rombel). Kondisi itu membikin pembimbing dan penduduk sekitar berinisiatif membangun ruang kelas darurat secara swadaya agar aktivitas belajar mengajar (KBM) tetap berjalan.

Kepala SDN Banjar 4, Chotimah, mengatakan, sekolah nan dipimpinnya telah masuk pendataan revitalisasi dan dinilai layak menerima bantuan. Namun, hingga kini, SDN Banjar 4 belum masuk dalam daftar sekolah penerima revitalisasi tahun ini.

“Sudah mengusulkan revitalisasi dan kelas kami tetap ada lima ruang saja, sedangkan ada enam rombel,” ujarnya, Selasa (13/10/2026).

Menurut Chotimah, terdapat 11 SD negeri di Kecamatan Galis nan masuk pendataan revitalisasi. Namun, empat sekolah di antaranya belum terpilih sebagai penerima bantuan, termasuk SDN Banjar 4.

“Yang masuk pendataan 11 sekolah dan tidak lolos itu ada empat, SDN Banjar 1, SDN Banjar 4, SDN Sorpah, dan SDN Sadeh,” terangnya.

Sejauh ini, Chotimah mengaku belum mendapatkan penjelasan secara terperinci mengenai argumen sekolahnya tidak terpilih. Informasi nan diterimanya dari Dinas Pendidikan (Disdik) Bangkalan menyebut bahwa penentuan penerima support merupakan kewenangan pemerintah pusat.

Meski demikian, dia menilai pemerintah wilayah juga mempunyai peran lantaran pengajuan revitalisasi dilakukan melalui pemerintah kabupaten. Sebab itu, dia mempertanyakan argumen pasti SDN Banjar 4 tidak masuk dalam daftar penerima support tahun ini.

“Memang pusat, tapi nan mengusulkan wilayah juga, jadi saya bertanya ada apa dengan SDN Banjar 4,” ungkapnya.

Di tengah keterbatasan akomodasi tersebut, KBM tetap berjalan dengan memanfaatkan ruang kelas berbahan bambu nan dibangun dari sumbangan pembimbing dan penduduk sekitar. Ruangan itu digunakan oleh siswa kelas III nan berjumlah 23 orang.

“Siswa nan ditempatkan di ruangan itu kelas tiga ada 23 siswa, keadaannya memang kurang layak lantaran sempit,” tuturnya.

Chotimah berharap, SDN Banjar 4 mendapat perhatian lebih dari Disdik Bangkalan agar para siswa bisa menikmati ruang belajar nan lebih layak. Menurutnya, peningkatan akomodasi sekolah menjadi kebutuhan krusial untuk menunjang kenyamanan dan kualitas pembelajaran.

Selama ini, perbaikan kerusakan mini di sekolah tetap mengandalkan biaya support operasional sekolah (BOS). Namun, keterbatasan anggaran membikin pihak sekolah berambisi adanya support lebih besar, terutama untuk mengatasi kekurangan ruang kelas.

“Tapi jika angan saya jika sudah masuk pendataan mudah-mudahan saya tetap dapat gitu, selain memang kami meningkatkan aktivitas belajar siswa, tentu wali siswa juga memandang akomodasi sekolah,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Dasar (Kabid SD) Disdik Bangkalan, Ali Yusri Purwanto, belum memberikan jawaban saat dikonfirmasi melalui telepon. (fik/zul)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0