Dosen Sastra Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Unira, Muhammad Tauhed Supratman memegang kitab karyanya berjudul Lukamu Abadi dan kitab Kumpulan Puisi Ranjang Poskolonial karya Royyan Julian di Perpustakaan Unira, Senin (12/10/2026) (LAILIYATUN NURIYAH/KLIK MADURA).
LAILIYATUN NURIYAH, Pamekasan, Klik Madura.
****
LUKA akibat pengkhianatan cinta dapat menjelma menjadi karya sastra nan menyentuh hati pembaca. Melalui puisi, seorang penyair menumpahkan pengalaman batin, menyimpan misteri, sekaligus menghadirkan beragam makna nan tidak selalu selesai untuk ditafsirkan.
Hal itulah nan menarik perhatian Muhammad Tauhed Supratman, pengajar Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Madura (Unira), terhadap kumpulan puisi Ranjang Poskolonial karya Royyan Julian.
Ketertarikannya pada luka-luka jiwa nan tersirat dalam puisi-puisi tersebut mengantarkannya menulis kitab Lukamu Abadi: Kajian Hermeneutik terhadap Kumpulan Puisi Ranjang Poskolonial Karya Royyan Julian.
Buku setebal 328 laman itu mengulas 48 puisi pilihan dari sekitar 50 puisi dalam kumpulan karya Royyan. Melalui kajian hermeneutik, Tauhed berupaya menelusuri simbol, mengungkap makna, serta membuka tabir misteri nan tersembunyi di kembali sajak-sajak sang penyair.
Ketertarikan Tauhed terhadap Ranjang Poskolonial bermulai ketika dirinya berbareng Royyan menjadi penilai dalam sebuah makalah pada seminar akademik mahasiswa Unira. Kebetulan, mahasiswa nan mengikuti seminar tersebut mengkaji karya Royyan nan berjudul Ranjang Poskolonial.
Dari pertemuan itulah Tauhed berkesempatan menerima kitab tersebut secara langsung. Namun, bukan sekadar isi puisi nan membuatnya tertarik. Sebuah percakapan dengan Royyan justru menjadi pintu masuk bagi Tauhed untuk menyelami lebih jauh sisi individual nan mungkin tersimpan di kembali karya-karya sang penyair.
“Kemudian saya dikasih kitab itu, dan Pak Royyan ini ketika memberikan pengarahan tentang ulasan itu nanya, ‘Kamu tahu kenapa sampai saat ini saya tidak menikah?’ Saya dengarkan itu dengan saksama dan beliau menjawab, ‘Karena saya ini pernah dikhianati dan sering mengkhianati’. Maka dari itu saya tertarik, kemudian saya sambung, ‘Apakah itu semua tertulis di kitab itu, Pak Ro?’ Beliau hanya tersenyum,” ujar Tauhed, Senin (12/10/2026).
Percakapan tersebut meninggalkan rasa penasaran bagi Tauhed. Ia kemudian membaca puisi demi puisi dalam Ranjang Poskolonial untuk menelusuri gimana pengalaman tentang cinta, pengkhianatan, dan luka jiwa dituangkan Royyan ke dalam karya sastra.
Bagi Tauhed, puisi-puisi Royyan menyimpan misteri nan tidak mudah diungkap. Salah satunya terlihat dalam puisi berjudul Kerapuhan Cinta. Sosok wanita nan menjadi bagian dari cerita dalam puisi itu tetap menjadi tanda tanya. Begitu pula dengan pertanyaan tentang seberapa rentan cinta nan dialami Royyan Julian.
“Karya Royyan tersebut semuanya membicarakan tentang cinta, seperti titel puisi Kerapuhan Cinta nan menjadi misteri siapa sosok gadis nan dimaksud. Dan benarkah begitu rentan cinta Royyan Julian itu? nan sampai saat ini tetap menjadi misteri,” tutur Tauhed.
Ia meyakini, seorang penyair kerap menyisakan ruang misteri dalam karya-karyanya. Tidak semua pengalaman pribadi kudu dijelaskan secara gamblang kepada pembaca. Justru, ketidakpastian itulah nan memungkinkan puisi terus hidup melalui beragam penafsiran.
“Karena seorang penyair itu selalu menunjukkan kemisteriannya, misteri tentang cinta. Andaikan mereka itu dipersatukan, mungkin gadis itu bakal kekal pada karya-karyanya Royyan Julian. Setelah kitab ini sudah di tangan Pak Royyan, beliau hanya menanggapi, ‘Makasih Pak Tauhed, ini begitu komplit ulasannya’. Itu saja komentarnya,” kata Tauhed.
Kado Ulang Tahun untuk Sang Penyair
Selain menjadi ruang untuk menafsirkan luka dan misteri cinta, kitab Lukamu Abadi juga mempunyai makna individual bagi Tauhed. Ia terkenang nama belakang Royyan, ialah Julian, nan menurutnya berangkaian dengan bulan Juli. Dari ingatan itu, muncul kemauan untuk menjadikan kitab tersebut sebagai bingkisan ulang tahun bagi sang penyair.
Niat itu kemudian dituangkan secara langsung pada laman depan buku. Tauhed mempersembahkan karyanya kepada Royyan sebagai bingkisan ulang tahun ke-37 nan jatuh pada 3 Juli 2026.
Dalam kitab tersebut tertulis, ‘Kupersembahkan untuk: Adikku, temanku, saudaraku, Royyan Julian sebagai bingkisan Ulang Tahun ke-37, 3 Juli 1989’.
Persembahan itu menjadi penanda bahwa kitab tersebut tidak hanya lahir dari kesukaan akademik terhadap karya sastra, tetapi juga dari kedekatan individual dan penghargaan Tauhed terhadap perjalanan imajinatif Royyan.
Dalam proses penulisannya, Tauhed terlebih dulu membaca keseluruhan kumpulan puisi, kemudian menentukan arah pembacaan, mengenali simbol-simbol nan muncul, dan menafsirkan makna nan terkandung di dalamnya.
Menurut dia, sebuah karya sastra bakal terus terbuka terhadap penafsiran baru setelah berada di tangan pembaca. Makna puisi tidak sepenuhnya berakhir pada maksud pengarang, tetapi berkembang melalui pengalaman dan perspektif pandang orang nan membacanya.
“Dan karakter puisi itu menjadi bagus andaikan tafsirannya tidak pernah selesai. Makanya saya tulis di pengantar perihal argumen pemilihan titel Lukamu Abadi ini dan saya kemas dengan puisi di belakang sampul kitab ini,” ujar Tauhed.
Setelah menjelaskan argumen pemilihan titel tersebut, Tauhed kemudian membacakan puisi nan tercantum di bagian belakang sampul bukunya di hadapan wartawan Klik Madura.
Berbuah Penghargaan Sutasoma
Buku Lukamu Abadi tidak berakhir sebagai karya kajian sastra nan dipersembahkan untuk Royyan Julian. Berkat dorongan sejumlah teman, Tauhed memberanikan diri mengirimkan karyanya ke arena Penganugerahan Sutasoma nan diselenggarakan Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.
Karya tersebut kemudian terpilih dalam kategori Buku Esai/Kritik Sastra. Tauhed pun menerima penghargaan tersebut sebagai corak apresiasi atas kontribusinya dalam kajian sastra.
Penghargaan Sutasoma menjadi salah satu pencapaian krusial dalam perjalanan panjang Tauhed di bumi kepenulisan. Ketertarikannya terhadap sastra sendiri telah tumbuh sejak dia duduk di kelas II Sekolah Pendidikan Guru (SPG), jenjang pendidikan nan pada masanya setara dengan sekolah menengah atas.
Menariknya, perjalanan Tauhed di bumi sastra tidak berasal dari kecintaannya terhadap pelajaran Bahasa Indonesia. Saat duduk di kelas I SPG, dia justru memperoleh nilai 6 untuk mata pelajaran tersebut. Namun, pertemuannya dengan seorang pembimbing mengubah pandangannya terhadap bumi kepenulisan.
Guru nan dimaksud adalah Bashir Ahmad Suparlan, nan baru lulus dari Texas University. Dari gurunya itu, Tauhed mulai mengenal bumi menulis secara lebih dekat hingga akhirnya terdorong untuk menghasilkan karya sendiri.
“Kemudian saya terpengaruh dari pembimbing saya nan menjadi inspirasi saya untuk terus menulis, ialah Bashir Ahmad Suparlan nan baru lulus dari Texas University dan berbincang tentang menulis, makanya saya tertarik,” ungkap Tauhed.
Sejak tetap bersekolah, Tauhed telah mengirimkan sejumlah tulisan ke beragam media lokal. Tulisan pertamanya dimuat Jawa Pos pada 1989 dengan titel Peran Wanita dalam Pembangunan. Setelah itu, dia mulai beranjak menulis puisi. Puisi pertamanya dimuat di majalah Pembangunan Agama milik Departemen Agama, nan sekarang menjadi Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kebiasaan membaca surat kabar turut membentuk perjalanan kreatifnya. Tauhed mengaku doyan membaca surat kabar, terutama jenis Sabtu dan Minggu lantaran biasanya memuat rubrik sastra. Beberapa surat berita nan menjadi bacaannya antara lain Jawa Pos, Kompas, Republika, Suara Karya, Surya, dan Simponi.
Kecintaannya terhadap bahasa dan sastra juga tercermin melalui puisi berkata Madura. Pada 1993, puisinya nan berjudul Madura e koncokna perreng dimuat di Jawa Pos. Karya tersebut menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjangnya dalam menekuni bumi kepenulisan.
“Kemudian saya melanjutkan kuliah di tahun 1997 di Unira setelah nganggur selama 7 tahun nan saya isi dengan mengikuti pendidikan jurnalistik berdikari di Jakarta,” ucapnya.
Sastra sebagai Ruang Kritik
Perjalanan Tauhed sebagai penulis juga tidak terlepas dari situasi sosial dan politik nan melingkupi Indonesia. Pada 1998, ketika gelombang Reformasi memanas, dia menulis puisi berjudul Nyanyian dari Kampus.
Puisi tersebut menjadi corak protes terhadap pemerintah pada masa itu. Tauhed kemudian mengirimkannya ke Radio Nederland. Karya itu dimuat dan dibacakan, sekaligus memberinya pengalaman nan berkesan lantaran memperoleh honorarium nan terbilang besar pada zamannya.
Ia mengaku menerima honorarium Rp750 ribu dari puisi tersebut. Jumlah itu jauh melampaui honorarium puisi di Indonesia saat itu, nan menurutnya berkisar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa sastra bagi Tauhed bukan semata-mata ruang untuk mengungkapkan perasaan, melainkan juga sarana menyampaikan kritik terhadap keadaan sosial dan politik.
Puluhan tahun setelah karya-karya itu ditulis, perjalanan imajinatif Tauhed kembali menemukan ruang baru. Sejumlah puisinya dihimpun berbareng karya D. Zawawi Imron dan Sutardji Calzoum Bachri oleh Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Himpunan tersebut bernuansa kritik terhadap Indonesia, mencakup puisi baru maupun puisi lama.
Di tengah perjalanan panjangnya sebagai pendidik dan penulis, Tauhed tetap memandang sastra sebagai bagian krusial dalam bumi pendidikan. Ia menilai pembelajaran sastra di sekolah tetap menghadapi tantangan, terutama ketika pengajaran lebih banyak bertumpu pada kitab teks daripada praktik pembuatan karya.
Menurutnya, siswa perlu memperoleh ruang nan lebih luas untuk membaca, menafsirkan, dan menulis karya sastra. Dengan demikian, sastra tidak hanya dipahami sebagai materi pelajaran, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kepekaan, mengolah pengalaman, dan menyampaikan gagasan.
Prinsip itulah nan terus dipegang Tauhed hingga kini, baik dalam menulis maupun dalam menjalani perannya sebagai pengajar.
“Karena saya mempunyai prinsip, ‘menulislah sebelum menulis itu dilarang, walaupun sastra menjadi anak tiri pembelajaran’. Karena sastra itu tidak betul-betul diajarkan di sekolah lantaran itu bentukannya hanya textbook, jadi susah untuk melahirkan anak-anak nan bisa menulis sastra,” tandasnya. (*)

1 hari yang lalu
7








English (US) ·
Indonesian (ID) ·