Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik dan Menanti Data Inflasi AS

1 jam yang lalu 1
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.903 per Dolar AS, Tertekan Geopolitik dan Menanti Data Inflasi AS

portalmadura.com — Nilai tukar mata duit rupiah kembali mencatatkan pelemahan tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Rabu (14/10/2026). Koreksi ini terdorong oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta sikap kewaspadaan para pelaku pasar finansial dunia menjelang rilis info ekonomi krusial AS.

Pada sesi penutupan sore hari, mata duit garuda terkoreksi sebesar 3 poin alias 0,02 persen. Hal ini membawa rupiah berada di posisi Rp17.903 per dolar AS, setelah pada sesi perdagangan sebelumnya berada di kisaran Rp17.900 per dolar AS.

Gejolak Timur Tengah dan Isu Diplomatik Internasional

Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa memanasnya bentrok di area Timur Tengah menjadi salah satu penekan utama pergerakan mata duit lokal. Eskalasi militer kembali terjadi setelah golongan Houthi melancarkan serangan jawaban menyasar akomodasi manajemen milik perusahaan minyak nasional Saudi Aramco di kota Dhahran. Serangan nan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak tersebut memicu kebakaran berskala mini di letak kejadian.

Di sisi lain, dinamika internasional dari area Eropa Timur turut menyita perhatian pasar. Pihak Rusia menegaskan bahwa proses perundingan tenteram dengan Ukraina tidak mempunyai keterkaitan langsung dengan kesepakatan ekspor solar ke Amerika Serikat. Pernyataan resmi ini mengemuka untuk merespons laporan media Reuters mengenai diplomasi utusan AS kepada pejabat Ukraina.

Sikap Wait and See Pasar dan Proyeksi IMF

Dari sektor pasar keuangan, sebagian besar penanammodal memilih mengambil posisi wait and see. Pelaku pasar menantikan rilis laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Rabu (14/10/2026) malam guna membaca arah kebijakan suku kembang referensi oleh Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve.

Sementara itu dari ranah domestik, tekanan terhadap rupiah tetap terasa meskipun kondisi esensial ekonomi nasional menunjukkan sinyal positif. International Monetary Fund (IMF) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 5,1 persen, meningkat dibandingkan nomor perkiraan sebelumnya nan berada di level 5,0 persen.

Meski memproyeksikan peningkatan daya pacu ekonomi, IMF juga memperkirakan adanya kenaikan tingkat inflasi tahunan Indonesia nan diprediksi berada di kisaran 3,3 persen. Perpaduan sentimen eksternal dan proyeksi parameter makro domestik inilah nan menahan laju pergerakan mata duit rupiah hingga akhir sesi perdagangan.

Navigasi pos

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0