Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp17.900 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya

16 jam yang lalu 5
Rupiah Ditutup Menguat ke Level Rp17.900 per Dolar AS, Ini Faktor Pendorongnya

PortalMadura.com–

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses ditutup di area hijau pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Mata duit Garuda mengalami penguatan tipis sebesar 13 poin alias sekitar 0,07 persen, sehingga parkir di level Rp17.900 per dolar AS.

Analis pasar duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa pergerakan positif ini salah satunya didorong oleh dinamika di pasar daya global. Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengumumkan bahwa Rusia sepakat memasok kembali solar ke pasar internasional, sementara pemerintahannya untuk sementara mencabut hukuman atas bahan bakar Rusia demi meredakan ketatnya pasokan global.

“Pasokan tambahan ini dapat membantu meredakan ketatnya pasokan di pasar bahan bakar global, sekaligus mengurangi kekhawatiran pasokan nan belakangan ini turut menopang nilai minyak mentah,” ujar Ibrahim dalam riset resminya.

Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersikap hati-hati lantaran dibayangi keraguan mengenai keberlanjutan kesepakatan tersebut. Muncul laporan bahwa Rusia tetap melancarkan serangan terhadap prasarana daya Ukraina pasca-pengumuman itu, nan memicu pandangan dari sejumlah personil parlemen AS bahwa langkah pelonggaran tersebut berpotensi melanggar undang-undang larangan impor daya Rusia.

Selain aspek daya di Eropa, ketegangan geopolitik nan kembali memanas di area Timur Tengah turut menjadi sentimen penekan. Kelompok Houthi dilaporkan melancarkan serangan ke airport internasional Riyadh serta melakukan tindakan terhadap kapal tanker di dekat Selat Hormuz, nan menakut-nakuti stabilitas jalur pengedaran daya dunia.

Memasuki pertengahan pekan, penanammodal dunia sekarang tengah menantikan rilis sejumlah info ekonomi krusial dari Amerika Serikat, termasuk Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) nan dijadwalkan rilis pada Rabu dan Kamis. Selain itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di Bangkok pada hari Jumat turut menjadi konsentrasi perhatian pasar.

Dari dalam negeri, penanammodal menyoroti kajian penyedia indeks dunia mengenai status pembekuan pasar Indonesia. Transparansi pembentukan nilai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi perhatian utama akibat konsentrasi kepemilikan saham nan tinggi, di samping tantangan pemerintah dalam mengamankan pasokan impor bahan bakar minyak di tengah bentrok global.

Melihat beragam dinamika tersebut, Ibrahim memprakirakan pergerakan nilai tukar rupiah pada perdagangan berikutnya bakal condong naik turun dan berkesempatan bergerak pada kisaran Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

portalmadura.com

Navigasi pos

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0