KABAR MADURA | Bangun pagi, bekerja, mengejar target, menyelesaikan beragam kewajiban, lampau mengulang rutinitas nan sama keesokan harinya. Selama ini, kesibukan seperti itu kerap dianggap sebagai bagian dari kehidupan produktif. Namun, di tengah ritme hidup nan semakin cepat, sebagian anak muda mulai mempertanyakan satu perihal sederhana: ”apakah hidup kudu selalu diisi dengan kesibukan agar dianggap berhasil?”
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu argumen istilah soft life semakin banyak diperbincangkan. Gaya hidup ini menawarkan langkah pandang berbeda dalam menjalani keseharian, dengan memberikan ruang lebih besar bagi ketenangan, waktu istirahat, keseimbangan hidup, serta hal-hal sederhana nan membikin seseorang merasa nyaman.
Tren soft life berkembang di tengah budaya hustle nan sebelumnya begitu populer. Jika budaya hustle identik dengan kerja keras, pencapaian, dan produktivitas tanpa henti, soft life justru membujuk seseorang untuk lebih mengenali pemisah dirinya. Kesibukan tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan, karena kualitas hidup juga perlu mendapat perhatian.
Meski demikian, soft life kerap disalahartikan sebagai style hidup santuy tanpa sasaran alias ambisi. Padahal, memilih hidup nan lebih tenang bukan berfaedah berakhir bekerja, meninggalkan tanggung jawab, ataupun menghindari tantangan. Seseorang tetap bisa mempunyai tujuan dan berupaya meraihnya, sembari menetapkan pemisah agar pekerjaan tidak mengambil seluruh ruang dalam kehidupannya.
Menjalani soft life juga tidak kudu identik dengan kemewahan seperti nan kerap ditampilkan di media sosial. Gaya hidup ini bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mematikan notifikasi pekerjaan setelah jam kerja, menikmati waktu berbareng keluarga, tidur cukup, melangkah santai, membaca buku, alias memberikan waktu untuk diri sendiri tanpa merasa bersalah.
Pada dasarnya, menjalani hidup dengan lebih tenang bukan berfaedah menghindari semua persoalan. Ada kalanya seseorang tetap kudu menghadapi pekerjaan berat, menyelesaikan tugas, mengejar pendidikan, alias berhadapan dengan situasi nan tidak nyaman. Sebab, hidup nan tenang bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan keahlian untuk menghadapi beragam persoalan tanpa membiarkannya menguasai seluruh kehidupan.
Di sinilah soft life dapat dipahami secara lebih realistis. Gaya hidup ini bukan tentang menciptakan kehidupan nan sempurna, melainkan memahami kapan kudu terus bergerak dan kapan perlu berakhir sejenak. Bukan pula tentang mengurangi ambisi, tetapi memastikan bahwa upaya mencapai tujuan tidak membikin seseorang kehilangan dirinya sendiri.
Setiap orang mempunyai ukuran produktivitas dan keberhasilan nan berbeda. Ada nan merasa senang ketika sukses mengejar karier, sementara nan lain menemukan kepuasan melalui keluarga, pendidikan, hobi, alias kehidupan sederhana. Tidak semua orang kudu menjalani ritme nan sama untuk bisa merasa berhasil.
Sebab itu, bekerja keras dan beristirahat semestinya tidak dipandang sebagai dua perihal nan saling bertentangan. Jika kerja keras membantu seseorang berkembang dan mencapai tujuan, rehat juga menjadi bagian krusial agar dia tetap bisa melangkah. Hidup bukan hanya tentang seberapa banyak pencapaian nan sukses diraih, tetapi juga tentang gimana seseorang menikmati dan menjalani setiap prosesnya.
Pada akhirnya, soft life bukanlah rayuan untuk bermalas-malasan alias menghindari tanggung jawab. Sebaliknya, style hidup ini menjadi pengingat bahwa setiap manusia mempunyai pemisah nan perlu dihargai. Menjaga diri bukan berfaedah menyerah pada kehidupan. Terkadang, memilih hidup sedikit lebih tenang justru menjadi langkah untuk menjaga keseimbangan, merawat diri, dan terus melangkah lebih jauh. (ina)

45 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·