Dokter Erliyati Ingin Jadi Anak-anak

1 jam yang lalu 1
dr Erliyati MKesdr Erliyati MKes

“Ingin jadi anak-anak saja.”

Kalimat itu muncul di status WA dr. Erliyati, Plt Direktur Utama RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Pendek. Tidak ada penjelasan panjang.

Menjadi anak-anak memang enak. Tidak memikirkan jabatan. Tidak ditagih hasil rapat. Tidak kudu menjawab telepon ketika ada persoalan. Tidak perlu menanggung angan banyak orang.

Sejak menjadi Plt Direktur Utama RSUDMA, dr. Erliyati beberapa kali menyampaikan isi pikirannya lewat status WA. Terbaru, kemauan menjadi anak-anak itu.

Boleh jadi itu hanya seloroh. Boleh juga itu langkah paling sederhana untuk mengatakan: beban sedang tidak ringan.

Dokter Erliyati sudah 7 tahun menjabat Direktur RSUD Sumenep. Dia tergolong sukses melakukan transformasi hingga naik kelas menjadi RSUD jenis B.

Saat usia lewat 56 tahun. dr Erliyati dilantik sebagai Wakil Direktur Utama. Sekaligus menjabat Plt Direktur Utama RSUDMA.

Wakil Direktur bisa konsentrasi pada bidang-bidang nan diampunya. Mengurus pelayanan sesuai tugas wakil direktur.

Sementara Plt Direktur Utama kudu memikirkan semuanya. Ya..soal Pelayanan. Keuangan. SDM. Gedung. Alat kesehatan. Dokter spesialis. Pasien. Keluarga pasien.

Apalagi jika berangkaian dengan status rumah sakit milik pemerintah. Meski berstatus Plt kudu melayani beragam kepentingan. Sebagaimana tradisi arus kerakyatan dan birokrasi.

Termasuk jasa di luar arus utama. Dengan dalih stabilitas. Bismillah Melayani.

Bisa jadi dr Erliyati sekarang merasa babak belur. Overload menahan beban. Ketika kaki kaki penyangga-nya direlokasi. Dan spontan curhat lewat Status WA.

Kalau boleh ditafsiri: kenapa saya? Kok ditinggal berdiri sendiri. Sementara beban terus bertambah.

Rumah sakit pemerintah memang bukan tempat kerja biasa. Di sana menjadi tempat jenis kepentingan. Sementara publik. Tak berpikir panjang. Bagaimana pelayanan prima bukan sekadar semboyan di spanduk. Publik hanya mau ruangan bersih, manajemen tidak berbelit. Perawat ramah. Para dokternya sesuai ekspektasi.

Rumah sakit ideal diisi SDM mumpuni, perangkat mumpuni. Tapi rumah sakit plat merah bekerja di bawah bayang bayang regulasi. Aturan panjang bisa berlapis, dan kepentingan nan kadang datang dari segala arah.

Bukan hanya dari luar. Dari dalam pun tidak selalu mudah.

Ada orang nan ditempatkan tidak sepenuhnya sejalan dengan pekerjaan nan kudu ditangani. Ada posisi nan memerlukan pengalaman teknis, tetapi penugasannya seperti tidak berjumpa dengan kebutuhan di lapangan.

Kata guyonan di warung kopi: Jaka Sembung.

Padahal pelayanan rumah sakit tidak bisa ditopang oleh kedudukan di atas kertas saja. Tapi butuh orang nan mengerti masalah, sigap membaca keadaan, dan berani mengambil keputusan ketika keadaan mendesak.

dr Erliyati tergolong master senior. Dia alumni Unair. Jejaringnya dengan dokter-dokter ahli juga luas. dr Erli juga dikenal sat-set ketika menghadapi pekerjaan nan tidak bisa menunggu.

Kalau ada nan kudu segera dibereskan, dia langsung bergerak. Maka wajar jika dia sering berkata: seandainya ucapan dan tindakan melangkah seirama.

Karena rumah sakit perlu tindakan nan nyata. Bukan tambahan beban nan dibungkus kata-kata manis.

Bisa jadi status “ingin jadi anak-anak saja” itu lahir dari rasa lelah. Ketika orang-orang nan sebelumnya menjadi penyangga kerja-nya direlokasi ke luar RSUDMA. Ketika beban bertambah, tetapi ruang mobilitas Plt tetap terbatas.

Plt memang memimpin. Tapi kewenangannya tidak seluas Direktur Utama definitif.

dr Erliyati seperti diminta membawa kapal besar melewati ombak, sementara sebagian perangkat kendali belum sepenuhnya berada di tangannya.

Suatu ketika dia berucap; saya mau bekerja tanpa terlalu banyak beban nan semestinya bisa dibagi. Saya mau pelayanan rumah sakit melangkah dengan tim nan utuh. Saya mau perkataan dan support betul-betul berubah menjadi tindakan.

Dan justru lantaran itu, curhatan dr Erliyati tidak boleh dianggap sebagai sekadar status WA.

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0