Diduga Kelalaian Medis Usai Disuntik, Pemuda Asal Lenteng Meninggal di RS BHC Sumenep

43 menit yang lalu 1
Diduga Kelalaian Medis Usai Disuntik, Pemuda Asal Lenteng Meninggal di RS BHC Sumenep

portalmadura.com – Dugaan kelalaian medis kembali mengguncang akomodasi kesehatan di Kabupaten Sumenep. Seorang pemuda asal Desa Lenteng Timur, Kecamatan Lenteng, Moh. Firman Ramadhani (22), dilaporkan meninggal bumi setelah menjalani perawatan selama dua hari di Rumah Sakit Baghraf Health Care (RS BHC) Sumenep pada Selasa (13/10/2026).

Keluarga almarhum menduga kematian korban dipicu oleh ketidaksesuai prosedur penanganan medis usai pasien menerima suntikan cairan obat dari petugas perawat.

Perwakilan family korban berinisial Y menjelaskan, Firman pertama kali masuk dan menjalani perawatan rawat inap di rumah sakit swasta jenis C tersebut sejak Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 23.00 WIB.

Menurut Y, tim medis sempat menyampaikan perkembangan positif mengenai kondisi kesehatan korban pada Senin (12/10/2026) malam. Dokter nan menangani apalagi menginformasikan bahwa pasien diperbolehkan pulang keesokan harinya lantaran kondisinya telah membaik.

“Pada Senin malam, master nan menangani menyatakan bahwa kondisi pasien sudah membaik. Bahkan, family mendapat kepastian bahwa pasien bisa pulang besok harinya,” ujar Y.

Kondisi stabil tersebut tetap memperkuat hingga Selasa (13/10/2026) pagi. Pasien diketahui sempat berinteraksi dengan pihak keluarga, menggunakan telepon seluler, serta berpesan kepada sang ayah sebelum pergi beraktivitas.

Namun, situasi berubah drastis sekitar pukul 05.00 WIB usai perawat memberikan tindakan medis berupa suntikan obat kepada pasien.

“Setelah disuntik, pasien tiba-tiba mengalami muntah-muntah. Perawat saat itu hanya menyarankan agar muntahnya diselesaikan terlebih dahulu, lampau mematikan aliran infus nan macet sebelum meninggalkan ruang perawatan,” ungkap Y.

Tidak lama setelah ditinggalkan, kondisi kesehatan Firman memburuk secara signifikan. Korban mengalami kejang-kejang, mata melotot, perubahan warna pada wajah dan bibir menjadi kehitaman, serta mengeluarkan cairan berbusa berwarna merah dan hitam dari hidung serta mulut.

Upaya pihak family untuk memanggil support tenaga medis tidak mendapatkan respons cepat. Firman akhirnya dinyatakan meninggal bumi sekitar pukul 06.00 WIB.

Pihak family mempertanyakan prosedur keselamatan pasien dan menduga timbulnya reaksi fatal tersebut berangkaian erat dengan jenis obat nan diberikan melalui suntikan. Kendati demikian, kepastian mengenai indikasi overdosis alias reaksi alergi berat tetap memerlukan pemeriksaan medis secara mendalam.

Sementara itu, ketua RS BHC Sumenep belum memberikan keterangan resmi mengenai kejadian ini. Saat dikonfirmasi di letak rumah sakit pada Jumat (16/10/2026) sekitar pukul 10.20 WIB, Direktur RS BHC Sumenep dr. Tedjo Wahyu Putranto tidak dapat ditemui. Pihak manajemen serta petugas keamanan setempat mengarahkan wartawan untuk membikin janji jumpa terlebih dulu sebelum meminta tanggapan resmi dari pihak rumah sakit.

Navigasi pos

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0