PORTALMADURA.COM – Sektor pertanian nasional dihadapkan pada ancaman serius menyusul akibat kejadian El Nino nan memicu tandus lebih kering dan berkepanjangan pada tahun ini. Berdasarkan proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras Indonesia sepanjang Januari hingga November 2026 berpotensi menyusut 3 hingga 5 persen dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya.
Data BPS menunjukkan potensi produksi beras nasional pada Januari–November 2026 hanya mencapai 32,34 juta ton, lebih rendah dari capaian tahun 2025 nan menyentuh 33,28 juta ton. Penurunan ini dipicu oleh menyusutnya luas panen gabah kering giling (GKG) nan diperkirakan berkurang 2,98 persen dari 10,88 juta hektare menjadi 10,56 juta hektare.
Tekanan Produksi pada Akhir Tahun
Tekanan terhadap stok beras nasional diperkirakan semakin besar memasuki periode September hingga November 2026. Dalam rentang waktu tersebut, produksi beras diproyeksikan hanya mencapai 7,06 juta ton, alias merosot 11,95 persen dibandingkan periode nan sama tahun lampau nan mencatatkan nomor 8,02 juta ton.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa, menjelaskan bahwa kejadian El Nino mengubah pola monsun sehingga musim hujan datang lebih lambat. Kondisi ini menyebabkan agenda tanam padi utama bergeser dari Oktober ke November alias Desember, nan berisiko menekan hasil panen tahun ini serta bersambung hingga awal 2027.
Selain itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa proporsi luas pertanaman padi (standing crop) pada Agustus 2026 tercatat sebesar 28,07 persen, turun dibanding periode nan sama tahun lampau sebesar 34,15 persen. Menurunnya jumlah tanaman nan memasuki fase menjelang panen ini secara otomatis bakal mengurangi luas panen di bulan-bulan berikutnya.
Pemerintah Perkuat Penyaluran Beras SPHP
Untuk mengantisipasi lonjakan nilai dan menjaga kesiapan pangan di tengah masyarakat, pemerintah mengandalkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) nan dikelola oleh Perum Bulog.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat kuota awal SPHP sebanyak 828 ribu ton telah tersalurkan 100 persen per 23 September 2026. Pemerintah kemudian menambah kuota sebanyak 74 ribu ton untuk Oktober–November, di mana penyalurannya telah mencapai 33.500 ton alias 45,24 persen hingga 8 Oktober 2026. Guna meredam tekanan nilai di daerah, pemerintah juga menyepakati tambahan kuota 200 ribu ton beras SPHP hingga akhir Desember 2026, lapor portalmadura.com.

53 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·