Cegah Budaya Madura Tergerus Zaman, AJP dan DKP Libatkan Pelajar dalam Pekan Kebudayaan

1 hari yang lalu 5

KABAR MADURA | Pelestarian budaya Madura perlu dimulai sejak usia awal agar generasi muda tidak kehilangan akar identitasnya di tengah perkembangan zaman.  Gagasan itu menjadi salah satu konsentrasi rangkaian aktivitas seni dan budaya nan digelar Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), Dewan Kesenian Pamekasan (DKP), dan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) se-Madura di Monumen Arek Lancor, Pamekasan, 25–31 Oktober 2026.

Melalui tema Dari M. Tabrani untuk Indonesia, aktivitas tersebut tidak hanya menjadi ruang pengenalan kebudayaan lokal, tetapi juga mendorong pendidikan karakter melalui seni dan tradisi Madura.

Sejumlah aktivitas dirancang dengan melibatkan pelajar SD dan SMP sederajat. Di antaranya lomba cipta dan baca puisi bertema perjuangan, membatik Madura, peragaan busana tradisional Madura bertema Marlena dan Sakera, menyanyi lagu wilayah Madura, tari saman, serta mewarnai batik Madura.

Ketua AJP M. Khairul Umam mengatakan, kebudayaan bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan bagian dari identitas masyarakat nan perlu dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, upaya pelestarian tidak cukup dilakukan melalui aktivitas seremonial. Kebudayaan kudu dikenalkan dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama kepada anak-anak sejak usia dini.

“Kalau kita tidak mengenal dan merawatnya, suatu saat generasi berikutnya mungkin hanya bakal mengenal kebudayaan Madura sebagai cerita dari masa lalu,” kata Khairul Umam.

Dia menilai, perkembangan teknologi dan masuknya budaya dari luar merupakan perihal nan tidak dapat dihindari. Namun, generasi muda tetap perlu mengenali identitas dan kekayaan budaya daerahnya sendiri.

“Anak-anak kita boleh mengikuti perkembangan era dan mengenal budaya dari mana pun. Tetapi mereka juga kudu tahu siapa dirinya, dari mana asalnya, dan apa nan menjadi kekayaan budayanya,” ujar wartawan nan berkawan disapa Irul tersebut.

Sementara itu, Ketua DKP Arief Wibisono menilai, seni dan budaya mempunyai peran krusial dalam membangun karakter generasi muda. Karena itu, pendidikan tidak semestinya hanya berorientasi pada keahlian akademik, tetapi juga perlu menanamkan nilai-nilai budaya sejak dasar.

“Jadi, kami mau mendidik betul dulu, sebelum pintar. Jadi terbangun lewat kebudayaan, dari dasar, dan budaya ini kudu berdasar,” tuturnya.

Arief menjelaskan, rangkaian aktivitas tersebut berangkat dari pendapat sederhana untuk membangun kepedulian terhadap kebudayaan Madura. Dia berharap, kepedulian itu berkembang melalui keterlibatan beragam kalangan, mulai dari jurnalis, pengusaha, hingga pemimpin daerah.

“Harapan kami bahwa meskipun ini buahpikiran kecil, tapi gimana suatu saat ini menjadi besar. Apalagi jika wartawan, pengusaha, dan pemimpin satu pemahaman, mau peduli di dalam persoalan ini. Mudah-mudahan dengan aktivitas ini, kita terketuk,” katanya.

Menurut Arief, penguatan kebudayaan juga perlu melangkah seimbang dengan pembangunan di bagian kepercayaan dan olahraga. Di Pamekasan, nilai-nilai seni dan budaya diharapkan dapat melangkah beriringan dengan semangat Gerbang Salam alias Gerakan Pembangunan Masyarakat Islami.

“Yang terpenting semuanya mengakar pada entitas budaya kita,” imbuhnya.

Dia menegaskan, aktivitas tersebut berkarakter independen dan terlaksana melalui semangat gotong royong kelompok-kelompok nan mempunyai kepedulian terhadap kebudayaan. Dampak aktivitas diharapkan dapat dirasakan masyarakat luas, bukan hanya oleh organisasi penyelenggara.

Selain melibatkan pelajar dalam beragam aktivitas seni, rangkaian aktivitas tersebut juga diisi pameran budaya Madura, pagelaran kuliner unik Pamekasan, obrolan dan orasi kebudayaan, serta pembacaan Sumpah Pemuda.

Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, bakal digelar Sarasehan Kebudayaan nan menghadirkan sejumlah tokoh kebudayaan Madura untuk menyampaikan pandangan dan testimoni mengenai keberadaan serta keberlanjutan budaya lokal.

Penggunaan nama M. Tabrani dalam tema aktivitas menjadi pengingat atas kontribusi tokoh asal Pamekasan tersebut dalam sejarah kebangsaan. Tabrani dikenal sebagai salah satu tokoh Pergerakan Nasional nan mengusulkan penggunaan istilah Bahasa Indonesia dalam janji Sumpah Pemuda pada Kongres Pemuda II 1928. (fir/waw)

Selengkapnya
google.com, pub-8604827097413925, DIRECT, f08c47fec0942fa0