Aracok Budhaja: Sebuah Catatan Merapal Ingatan, Masyarakat Blega Menjaga Kebudayaan

51 menit yang lalu 1

Penari tradisional unjuk kebolehan dalam aktivitas Aracok Budhaja nan digelar di alun-alun Kecamatan Blega, Bangkalan. (KLIKMADURA)

Oleh: Muhari AS, Wartawan Klik Madura wilayah Bangkalan.

****

BLEGA menjadi tanah substansial dalam sebuah sejarah perjalanan pergolakan kebudayaan, cerita rakyat dan cerita-cerita lainnya tersusun dengan rapi dalam saksi tanah Blega.

Ketika hendak mengembalikan ingatan masa lalu, masyarakat Blega kental bakal salah satu cerita dan jejak historis nan tertinggal didalamnya sebagai sebuah panembahan.

Pangeran Blega, Pangeran Macan Putih adalah sebuah ingatan dari cikal-bakal tumbuh dan berdirinya Kecamatan Blega.

Aracok Budhaja; Taretan Paraten Budhaja, Lanceng Blega Kompak Sadhaja nan digelar oleh Ikatan Mahasiswa Blega (Ikamaga) ini adalah momentum mengembalikan ingatan bersejarah.

Tujuannya, agar menjadi ghiroh penentu dan kekuatan terhadap pertumbuhan ekosistem kepemimpinan, keikhlasan dan perjuangan masyarakat Blega nan dilatarbelakangi oleh Cerita Pangeran Blega tersebut.

Acara ini dikemas dengan Fashion Show, Musik Daul, Pertunjukan Kesenian dan Bazar UMKM sebagai langkah kolaboratif antar pengusaha di Kecamatan Blega dan sekitarnya.

Pukul 18.30 WIB Sabtu, 22 Agustus 2026 masyarakat Blega, baik pelajar, mahasiswa dan masyarakat umum turut memadati Alun-Alun Kecamatan Blega Kabupaten Bangkalan.

Pegelaran dimulai secara seremonial, pembukaan dan sambutan-sambutan, peserta undangan juga turut mengambil undian lantaran diakhir aktivitas disiapkan doorprize mulai dari mesin cuci dan hadiah-hadiah menarik lainnya.

Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Blega, Ivanka Ramadhan menegaskan dalam sambutannya bahwa aktivitas Aracok Budhaja tersebut sebagai upaya untuk melangkah meraih kekompakan dan persatuan masyarakat Blega dari beragam komponen untuk terus berkolaborasi.

“Ini adalah momentum untuk menyatukan masayarakat Blega dan meramu budaya, kesenian nan ada di Blega” Ujar Ivanka.

“Aracok Budhaja Blega, aracok adalah menyelamati alias buah tanda kita mensyukuri atas kebudayaan-kebudayaan nan ada di Blega nan tetap terjaga, dijaga dan seterusnya dirawat” tambahnya.

Kepala Puskesmas Blega, Siti Safitri Mulita Akhmad juga memberikan apresiasi atas terlaksananya acara.

“Aracok Budhaja ini tak hanya sekadar menjadi intermezo belaka untuk masyarakat Blega dan sekitarnya, tetapi edukasi budaya, edukasi kesenian. Untuk merapal kembali ingatan tentang Blega nan sakral dan penuh bakal sejarah” ujar Kepala Puskesmas tersebut.

Merapal ingatan tentu merefleksikan perjuangan-perjuangan nan ada, perihal itu tampak dari penampilan fashion show dengan latar belakang penampilan nan berbeda-beda.

Ada peserta dengan penampilan Sekar Macan Putih, sosok macan putih dimaknai sebagai keberanian ditampilkan dalam corak kepala macan, sekar macan putih tidak hanya penampilan tetapi budaya nan panjang nan terus ada dalam ingatan masyarakat Blega, tidak hanya dikenang tetapi dirawat untuk dikenang oleh masa sekarang dan masa depan.

Selanjutnya, dari SDN Blega 3 ialah memakai kostum puteri penjaga keelokan alam, menampilkan dengan kedua kepakan sayapnya, putri bersayap mempunyai makna kebebasan untuk mempunyai mimpi nan tinggi, terbang untuk mengarungi masa depan.

Seperti halnya sayap nan membawa angan untuk terbang, sama halnya produktivitas nan dikenakan dari peralatan jejak hingga melampaui batas.

Raja penjaga bumi, raja muda nan gagah, penampilan fashion ini memakai kostum nan dibuat dari peralatan jejak menjadi karya nan bernilai, mahkota nan dipakai melambangkan kepemimpinan, rompi dengan lambang perlindungan serta jubah nan melekat dalam tubuhnya melambangkan tanggung jawab seorang pemimpin.

Setiap partisipasi peserta fashion show dan pemain musik Daul mendapatkan apresiasi dari panitia penyelenggara. Tiga musik Ul Daul Partisipasi ialah K-conk Angkara, Lendhu Alam dan NBM Mekar Jaya.

Festival Aracok Budhaja ini perlu diapresiasi dan harapannya terus ada setiap tahun dengan aroma kebudayaan dan kesenian nan ada di Kecamatan Blega.

Namun, pelaksanaannya perlu terus dievaluasi, agar pengelolaan pelaksanaannya lebih tertib, efisien dan terarah.

Sebab kebudayaan adalah buah dari hasil cipta, rasa dan karsa nan kudu terus dihidupkan. (*)

Selengkapnya