KM/DINA MAULIDA HASANAH | DETEKSI DINI: Dinkes Pamekasan mencatat 51 kasus baru HIV sepanjang Januari hingga September 2026, dengan 30 orang telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).KABAR MADURA | Sebanyak 51 kasus baru HIV ditemukan di Pamekasan sepanjang Januari hingga September 2026. Di tengah upaya pengendalian penyakit tersebut, stigma dan diskriminasi tetap menjadi tantangan lantaran dapat membikin masyarakat takut untuk menjalani pemeriksaan maupun pengobatan.
Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, Erlina, mengatakan penemuan kasus HIV hingga September 2026 tidak menunjukkan peningkatan nan signifikan dibandingkan pada tahun sebelumnya.
“Tren penemuan kasus HIV di Pamekasan hingga September 2026 tidak menunjukkan peningkatan nan signifikan dibandingkan dengan periode nan sama pada tahun 2025,” ungkap Erlina saat diwawancarai (12/10/2026).
Meski demikian, upaya penemuan kasus secara awal dan keberlanjutan pengobatan tetap perlu diperkuat. Dari 51 kasus nan ditemukan pada Januari–September 2026, sebanyak 30 orang telah menjalani pengobatan antiretroviral (ARV).
Namun, memastikan seluruh orang dengan HIV menjalani pengobatan secara optimal dan berkepanjangan tetap jadi tantangan.
Berdasarkan info Dinkes Pamekasan, golongan usia 25–49 tahun menjadi golongan dengan penemuan kasus terbanyak, ialah 33 kasus dari total 51 kasus nan ditemukan.
Selain persoalan pengobatan, stigma dan ketakutan masyarakat juga menjadi halangan dalam penemuan kasus HIV. Ketakutan terhadap diskriminasi, pengucilan sosial, hingga terbukanya status HIV dapat membikin sebagian orang enggan melakukan pemeriksaan alias menunda pengobatan.
Upaya penanganan HIV perlu dilakukan kata Erlina, melalui ekspansi pemeriksaan dini, edukasi masyarakat, pendampingan pasien, serta koordinasi lintas sektor. Jaminan kerahasiaan pasien juga krusial agar masyarakat merasa kondusif ketika mengakses jasa kesehatan.
Masyarakat nan mempunyai aspek akibat diimbau perlu meningkatkan kesadaran untuk melakukan tes HIV. Selain itu, penerapan perilaku pencegahan nan kondusif dan sikap tidak mendiskriminasi orang dengan HIV juga menjadi bagian krusial dalam pengendalian penyakit tersebut.
“Hal nan paling mendesak dilakukan masyarakat saat ini, adalah meningkatkan kesadaran untuk melakukan tes HIV andaikan mempunyai aspek risiko, menerapkan perilaku pencegahan nan aman, serta tidak memberikan stigma kepada orang dengan HIV,” pungkasnya. (ina/waw)

21 jam yang lalu
5









English (US) ·
Indonesian (ID) ·