KABAR MADURA | Amir Chamdani, lahir pada tanggal 11 Juni 1972 sebagai anak pertama dari empat bersaudara, perjalanan hidup Amir nan penuh dengan warna, tempaan disiplin, serta pengalaman spiritual nan kuat.
Di kembali posisinya saat ini sebagai camat Tlanakan Pamekasan, tersimpan kisah perjuangan panjang nan dilandasi ketulusan, kerja keras, dan angan nan tidak pernah putus.
Sejak duduk di bangku SMP kelas 1 (sekitar tahun 1988-1989), Amir bercerita, bahwa dia sudah terbiasa hidup mandiri, menumpang belajar di Mandilaras.
Ada satu momen unik nan membekas dalam ingatannya, ialah ketika seorang nenek nan dianggap buta lantaran sakit memegang telinganya dan berbisik bahwa kelak dia bakal menjadi seorang camat.
Meskipun sempat ditebak sebagai camat oleh beberapa orang di kemudian hari, dia tidak pernah ambil pusing dan tetap konsentrasi menjalani perannya sebagai seorang perawat. Siapa sangka, ramalan-ramalan mini masa lampau itu sekarang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sebagai anak sulung, beban moral untuk membantu family sangat besar. Sejak ibunya bekerja di Saudi Arabia, biaya hidup dan sekolah adik-adiknya ditanggung berbareng oleh beliau dan sang ibu.
Bagi Amir, kunci utama kesuksesan seorang adalah disiplin tinggi, tidak pernah nakal, menjaga salat lima waktu, serta rutin mengamalkan sholawat nariyah nan diajarkan oleh guru-gurunya. Dia memegang teguh prinsip jangan takut bekerja betul serta pahami kewenangan dan tanggungjawab sebagai pekerja.
“Jadikan cibiran alias kebencian orang lain sebagai support system dan penyemangat. Nasihat almarhum Gus Dur selalu saya pegang, ialah buat apa pun kebaikan, pasti bakal ada orang nan membenci. Maka, jadikan orang nan tidak suka sebagai motivasi untuk terus membuktikan kebenaran dalam bekerja,” ungkapnya. Kamis (22/10/2026).
Amir bercerita bahwa perjalanan kariernya di bumi kesehatan penuh dengan liku-liku perjuangan, pada tahun 1991 dia lulusan Sekolah Pendidikan Keperawatan (SPK) Sutopo (setingkat SMA), kemudian bekerja di Puskesmas Porong selama 2 tahun dengan penghasilan awal Rp50.000, nan apalagi sempat tidak dibayarkan selama 2 tahun.
Kemudian pindah ke Petrokimia Gresik, dengan memperkuat beberapa bulan sebelum akhirnya diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) pada tahun 1996 dengan penghasilan Rp80.800, nan jika dikontrak harian sebenarnya bisa mendapat hingga Rp300.000, namun dia tetap memilih jalan PNS demi pengabdian.
Kemudian bekerja di RSUD Pamekasan (RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo) lampau pindah ke Puskesmas Pademawu selama 6 tahun, dan kemudian beranjak ke Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Pamekasan selama 4 tahun. Di Dispora inilah dia pertama kali mengenal bumi struktural meskipun berlatar belakang perawat.
Sempat menjabat sebagai kepala sub bagian (kasubbag) di Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan, lampau dipercaya menjadi Wakil Direktur (Wadir) Umum dan Keuangan RSUD dr. H. Slamet Martodirdjo selama 3 tahun sebelum akhirnya kembali diamanahkan sebagai camat.
Melalui perjalanan hidupnya nan panjang dari seorang perawat, birokrat, hingga penggerak pesantren, Amir berpesan agar generasi muda senantiasa bekerja dengan jujur, disiplin, dan tulus lantaran Allah.
Dengan hidup sederhana dan tidak banyak style tanpa modal agar tidak terperosok ke lembah kesulitan, dan menjadikan setiap rintangan, cibiran, dan ujian hidup sebagai batu loncatan untuk menjadi pribadi nan lebih kuat.
“Apa nan ditanam, insya Allah bakal menunai hasilnya di situ. Kalau menanam kebaikan, insya Allah bakal selalu ditolong oleh Allah SWT dalam rezeki, keluarga, pendidikan, maupun pekerjaan,” tutupnya. (fit/waw)

1 jam yang lalu
4









English (US) ·
Indonesian (ID) ·